TIGA
LANDASAN UTAMA

Oleh

Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahab

Muqaddimah

Akhi (Saudaraku).

Semoga Allah senantiasa
melimpahkan rahmat-Nya kepada anda.

Ketahuilah, bahwa wajib
bagi kita untuk mendalami empat masalah, yaitu :

1. Ilmu, ialah mengenal
Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal agama Islam berdasarkan
dalil-dalil.

2. Amal, ialah
menerapkan ilmu ini.

3. Da’wah, ialah
mengajak orang lain kepada ilmu ini.

4. Sabar, ialah tabah
dan tangguh menghadapi segala rintangan dalam menuntut ilmu,
mengamalkannya dan berda’wah kepadanya.

Dalilnya, firman Allah
Ta’ala.

"Artinya : Demi
masa. Sesungguhnya setiap manusia benar-benar berada dalam kerugian.
Kecuali orang-orang yang beriman, melakukan segala amal shalih dan
saling nasihat-menasihati untuk (menegakkan) yang haq, serta
nasehat-menasehati untuk (berlaku) sabar".(Al-‘Ashr : 1-3).

Imam Asy-Syafi’i1
Rahimahullah Ta’ala, mengatakan :"Seandainya Allah hanya
menurunkan surah ini saja sebagai hujjah buat makhluk-Nya, tanpa
hujjah lain, sungguh telah cukup surah ini sebagai hujjah bagi
mereka".

Dan Imam Al-Bukhari2
Rahimahullah Ta’ala, mengatakan :"Bab Ilmu didahulukan sebelum
ucapan dan perbuatan".

Dalilnya firman Allah
Ta’ala.

"Artinya : Maka
ketahuilah, sesungguhnya tiada sesembahan (yang haq) selain Allah dan
mohonlah ampunan atas dosamu". (Muhammad : 19).

Dalam ayat ini, Allah
memerintahkan terlebih dahulu untuk berilmu (berpengetahuan) …. .."
3 sebelum ucapan dan
perbuatan.

Akhi (Saudaraku).

Semoga Allah senantiasa
melimpahkan rahmat-Nya kepada anda.

Dan ketahuilah, bahwa
wajib bagi setiap muslim dan muslimah untuk mempelajari dan
mengamalkan ketiga perkara ini :

  1. Bahwa Allah-lah
    yang menciptakan kita dan yang memberi rizki kepada kita. Allah
    tidak membiarkan kita begitu saja dalam kebingungan, tetapi mengutus
    kepada kita seorang rasul, maka barangsiapa mentaati rasul tersebut
    pasti akan masuk surga dan barangsiapa menyalahinya pasti akan masuk
    neraka. Allah Ta’ala berfirman :"Sesungguhnya Kami telah
    mengutus kepada kamu seorang rasul yang menjadi saksi terhadapmu,
    sebagaimana Kami telah mengutus kepada Fir’aun seorang rasul, tetapi
    Fir’aun mendurhakai rasul itu, maka Kami siksa ia dengan siksaan
    yang berat". (Al-Muzammil : 15-16).

  2. Bahwa Allah tidak
    rela, jika dalam ibadah yang ditujukan kepada-Nya, Dia
    dipersekutukan dengan sesuatu apapun, baik dengan seorang malaikat
    yang terdekat atau dengan seorang nabi yang diutus manjadi rasul.
    Allah Ta’ala berfirman :"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu
    adalah kepunyaan Allah, karena itu janganlah kamu menyembah
    seorang-pun di dalamnya disamping (menyembah) Allah". (Al-Jinn
    : 18).

  3. Bahwa barangsiapa
    yang mentaati Rasulullah serta mentauhidkan Allah, tidak boleh
    bersahabat dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya,
    sekalipun mereka itu keluarga dekat. Allah Ta’ala berfirman :"Kamu
    tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari
    Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi
    Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang itu bapak-bapak, atau
    anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka
    itulah orang-orang yang Allah telah mantapkan keimanan dalam hati
    mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya
    dan mereka akan dimasukkan-Nya ke dalam surga-surga yang mengalir
    dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha
    kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Mereka itulah
    golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah
    golongan yang beruntung". (Al-Mujaadalah : 22).

Akhi (Saudaraku).

Semoga Allah mebimbing
anda untuk taat kepada-Nya.

Ketahuilah, bahwa Islam
yang merupakan tuntunan Nabi Ibrahim adalah ibadah kepada Allah
semata dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Itulah yang
diperintahkan Allah kepada seluruh umat manusia dan hanya itu
sebenarnya mereka diciptakan-Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu
wa Ta’ala.

"Artinya : Dan aku
tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah
kepada-Ku". (Adz-Dzaariyaat : 56).

Ibadah dalam ayat ini,
artinya : Tauhid. Dan perintah Allah yang paling agung adalah Tauhid,
yaitu : Memurnikan ibadah untuk Allah semata-mata. Sedang larangan
Allah yang paling besar adalah syirik, yaitu : Menyembah selain Allah
di samping menyembah-Nya. Allah Ta’ala berfirman :

"Artinya :
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun
dengan-Nya". (An-Nisaa : 36).

Kemudian, apabila anda
ditanya : Apakah tiga landasan utama yang wajib diketahui oleh
manusia ? Maka hendaklah anda jawab : Yaitu mengenal Tuhan Allah
‘Azza wa Jalla, mengenal agama Islam, dan mengenal Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Fote Note.

  1. Abu Abdillah
    Muhammad bin Idris bin Al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’i Al-Hasyim
    Al-Quraisy Al-Muthallibi (150-204H – 767-820M) Salah seorang imam
    empat. Dilahirkan di Gaza (Palestina) dan meninggal di Cairo.
    Diantara karya ilmiyahnya Al-Umm, Ar-Risalah dan Al-Musnad.

  2. Abu ‘Abdillah
    Miuhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah Al- Bukhari
    (194-256H – 810-870M) Seorang Ulama ahli Hadits. Untuk mengumpulkan
    hadits ia telah menempuh perjalanan yang panjang, mengunjungi
    Khurasan, Irak, Mesir dan Syam. Kitab-kitab yang disusunnya antara
    lain Al-Jaami Ash-Shahih (yang lebih dikenal dengan Shahih Bukhari),
    At-Taarikh, Adh-Dhu’afaa, Khalq Af’aal al-Ibaad.

  3. Al-Bukhari dalam
    Shahih-nya, kitab Al-‘ilm, bab.10

MENGENAL ALLAH, ‘AZZA WA JALLA

Apabila anda ditanya :
Siapakah Tuhanmu ? Maka katakanlah : tuhanku adalah Allah, yang
memelihara diriku dan memelihara semesta alam ini dengan segala
ni’mat yang dikaruniakan-Nya. Dan dialah sembahanku, tiada sesembahan
yang haq selain Dia.

Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman :

"Artinya : Segala
puji hanya milik Allah Tuhan Pemelihara semesta alam".
(Al-Faatihah : 1).

Semua yang ada selain
Allah disebut Alam, dan aku adalah salah satu dari semesta alam ini.

Selanjutnya jika anda
ditanya : Melalui apa anda mengenal Tuhan ? Maka hendaklah anda jawab
: Melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan melalui ciptaan-Nya. Di
antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah : malam, siang, matahari dan
bulan. Sedang di antara ciptaan-Nya ialah : tujuh langit dan tujuh
bumi beserta segala mahluk yang ada di langit dan di bumi serta yang
ada di antara keduanya.

Firman Allah Ta’ala.

"Artinya : Dan di
antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan
bulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan janganlah (pula
kamu bersujud) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang
menciptakannya jika kamu benar-benar hanya kepada-Nya beribadah"
(Fushshilat : 37).

Dan firman-Nya :

"Artinya :
Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan
bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia
menutupkan malam kepada siang, senantiasa mengikutinya dengan cepat.
Dan Dia (ciptakan pula) matahari dan bulan serta bintang-bintang
(semuanya) tunduk kepada perintah-Nya. Ketahuilah hanya hak Allah
mencipta dan memerintah itu. Maha Suci Allah Tuhan semesta alam".
(Al-A’raaf : 54).

Tuhan inilah yang haq
disembah. Dalilnya, firman Allah Ta’ala :

"Artinya : Wahai
manusia ! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan
orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertaqwa, (Tuhan) yang telah
menjadikan untukmu bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap,
serta menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan air itu Dia
menghasilkan segala buah-buahan sebagai rizki untukmu. Karena itu,
janganlah kamu mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu
mengetahui". (Al-Baqarah : 22).

Ibnu Katsir 1
Rahimahullah Ta’ala, mengatakan :"Hanya Pencipta segala sesuatu
yang ada inilah yang berhak disembah dengan segala macam
ibadah".(Lihat Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, (Cairo,
Maktabah Dar At-Turats, 1400H) jilid. 1 hal. 57.

Dan macam-macam ibadah
yang diperintah Allah itu, antara lain : Islam (Syahadat, Shalat,
Puasa, Zakat dan Haji), Iman, Ihsan, Do’a, Khauf (takut), Raja’
(pengharapan), Tawakkal, Raghbah (penuh minat), Rahbah (cemas),
Khusyu’ (tunduk), Khasyyah (takut), Inabah (kembali kepada Allah),
Isti’anah (memohon pertolongan), Isti’adzah (meminta perlindungan),
Istighatsah (meminta pertolongan untuk dimenangkan atau
diselamatkan), Dzabh (penyembelihan) Nadzar dan macam-macam ibadah
lainnya yang diperintahkan olehAllah.

Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman :

"Artinya : Dan
sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, karena itu
janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamnya di samping
(menyembah) Allah". (Al-Jinn : 18).

Karena itu barangsiapa
yang menyelewengkan ibadah tersebut untuk selain Allah, maka dia
adalah musyrik dan kafir. Firman Allah Ta’ala :

"Artinya : Dan
barangsiapa menyembah sesembahan yang lain di samping (menyembah)
Allah, padahal tidak ada satu dalilpun baginya tentang itu, maka
benar-benar balasannya ada pada tuhannya. Sungguh tiada beruntung
orang-orang kafir itu". (Al-Mu’minuun :117).

Dalil-dalil macam
Ibadah :

1. Dalil Do’a.

Firman Allah Ta’ala :

"Artinya : Dan
Tuhanmu berfirman : Berdo’alah kamu kepada-Ku niscaya akan
Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya, orang-orang yang enggan untuk
beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina-dina".
(Ghaafir : 60).

Dan diriwayatkan dalam
hadits :

"Artinya : Do’a
itu adalah sari ibadah". ( Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam
Al-Jaami’ Ash-Shahiih, kitab Ad-Da’waat, bab 1. "Maksud hadits
ini adalah bahwa segala macam ibadah, baik yang umum maupun yang
khusus, yang dilakukan seorang mu’min, seperti mencari nafkah yang
halal untuk keluarga, menyantuni anak yatim dll, semestinya diiringi
dengan permohonan ridha Allah dan pengharapan balasan ukhrawi. Oleh
karena itu Do’a (permohonan dan pengharapan tersebut) disebut oleh
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sari atau otak
ibadah, karena senantiasa harus mengiringi gerak ibadah").

2. Dalil Khauf
(takut).

Firman Allah Ta’ala :

"Artinya : Maka
janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika
kamu benar-benar orang yang beriman". (Ali ‘imran : 175).

3. Dalil Raja’
(pengharapan).

Firman AllahTa’ala.

"Artinya : Untuk
itu barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhanya, maka
hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah mempersekutukan
seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya". (Al-Kahfi : 110).

4. Dalil Tawakkal
(berserah diri).

Firman Allah Ta’ala :

"Artinya : Dan
hanya kepada Allah-lah supaya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar
orang yang beriman". (Al-Maa’idah : 23).

"Artinya : Dan
barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia-lah yang akan
mencukupinya". (Ath-Thalaaq : 3).

5. Dalil Raghbah
(penuh minat), Rahbah (cemas) dan Khusyu’ (tunduk).

Firman Allah Ta’ala.

"Artinya :
Sesungguhnya mereka itu senantiasa berlomba-lomba dalam (mengerjakan)
kebaikan-kebaikan serta mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh minat
(kepada rahmat Kami) dan cemas (akan siksa Kami), sedang mereka itu
selalu tunduk hanya kepada Kami". (Al-Anbiyaa : 90).

6. Dalil Khasy-yah
(takut).

Firman Allah Ta’ala.

"Artinya : Maka
janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku".
(Al-Baqarah : 150).

7. Dalil Inabah
(kembali kepada Allah).

Firman Allah Ta’ala.

"Artinya : Dan
kembalilah kamu kepada Tuhanmu serta berserah dirilah kepada-Nya
(dengan mentaati perintah-Nya), sebelum datang adzab kepadamu,
kemudian kamu tidak dapat tertolong (lagi)". (Az-Zumar : 54).

8. Dalil Isti’anah
(memohon pertolongan).

Firman Allah Ta’ala.

"Artinya : Hanya
kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami
memohon pertolongan". (Al-Faatihah : 4).

Dan diriwayatkan dalam
hadits.

"Artinya : Apabila
kamu memohon pertolongan, maka memohonlah pertolongan kepada Allah".
(Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Jaami’ ‘Ash-Shahiih, kitab
Shifaat Al-Qiyaamah wa Ar-Raqa’iq wa Al-Wara : bab 59 dan riwayat
Imam Ahmad dalam Al-Musnad. Beirut Al-maktab Al-Islami 1403H jilid 1
hal. 293, 303, 307).

9. Dalil Isti’adzah
(meminta perlindungan).

Firman Allah Ta’ala.

"Artinya :
Katakanlah Aku berlindung kepada Tuhan yang Menguasai subuh".
(Al-Falaq : 1).

Dan firman-Nya :

"Artinya :
Katakanlah Aku berlindung kepada Tuhan manusia. Penguasa manusia".
(An-Naas : 1-2).

10. Dalil Istighatsah
(meminta pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan).

Firman Allah Ta’ala.

"Artinya :
(Ingatlah) tatkala kamu meminta pertolongan kepada Tuhanmu untuk
dimenangkan (atas kaum musyrikin), lalu diperkenankan-Nya bagimu".
(Al-Anfaal : 9).

11. Dalil Dzabh
(penyembelihan).

Firman Allah Ta’ala.

"Artinya :
Katakanlah. Sesungguhnya shalatkku, penyembelihanku, hidupku dan
matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam, tiada sesuatu-pun
sekutu bagi-Nya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku
adalah orang yang pertama kali berserah diri (kepada-Nya)".
(Al-An’am : 162-163).

Dalil dari Sunnah.

"Artinya : Allah
melaknat orang yang menyembelih (binatang) bukan karena Allah".
(Hadits Riwayat Muslim dalam Shahihnya, kitab Al-Adhaahi, bab 8 dan
riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad, jilid 1, hal. 108, 118 dan 152)

12. Dalil Nadzar.

Firman Allah Ta’ala.

"Artinya : Mereka
menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang siksanya merata di
mana-mana". (Al-Insaan : 7).

Fote Note.

  1. Abu Al-Fidaa :
    Ismail bin Umar bin Katsir Al-Qurasy Ad-Dimasyqi (701-774H –
    1302-1373M). Seorang ahli ilmu hadits, tafsir, fiqh dan sejarah.
    Diantara karyanya : Tafsir Al-Qur’aan Al-Azhim, Thabaqat Al-Fuqahaa
    Asy Syafiiyyun, Al-Bidayah wa An-Nihayah (sejarah), Ikhtishaar
    ‘Uluum Al-Hadits, Syarh Shahih Al-Bukhari (belum sempat
    dirampungkannya).

MENGENAL ISLAM

Islam, ialah berserah
diri kepada Allah dengan tauhid dan tunduk kepada-Nya dengan penuh
kepatuhan akan segala perintah-Nya serta menyelamatkan diri dari
perbuatan syirik dan orang-orang yang berbuat syirik.

Dan agama Islam, dalam
pengertian tersebut, mempunyai tiga tingkatan, yaitu : Islam, Iman
dan Ihsan, masing-masing tingkatan mempunyai rukun-rukunnya.

I. Tingkatan Islam

Adapun tingkatan Islam,
rukunnya ada lima :

  1. Syahadat
    (pengakuan dengan hati dan lisan) bahwa "Laa Ilaaha Ilallaah"
    (Tiada sesembahan yang haq selain Allah) dan Muhammad adalah
    Rasulullah.

  2. Mendirikan shalat.

  3. Mengeluarkan
    zakat.

  4. Shiyam pada bulan
    Ramadhan.

  5. dan Haji ke
    Baitullah Al-Haram.

1. Dalil Syahadat.

Firman Allah Ta’ala.

"Artinya : Allah
menyatakan bahwa tiada sesembahan (yang haq) selain Dia, dengan
senantiasa menegakkan keadilan (Juga menyatakan demikian itu) para
malaikat dan orang-orang yang berilmu. Tiada sesembahan (yang haq)
selain Dia. Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (Al-Imraan :
18).

"Laa Ilaaha
Ilallaah"’ artinya : Tiada sesembahan yang haq selain Allah.

Syahadat ini mengandung
dua unsur : menolak dan menetapkan. "Laa Ilaaha", adalah
menolak segala sembahan selain Allah. "Illallaah" adalah
menetapkan bahwa penyembahan itu hanya untuk Allah semata-mata, tiada
sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu didalam penyembahan
kepada-Nya, sebagaimana tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan
sekutu di dalam kekuasaan-Nya.

Tafsiran syahadat
tersebut diperjelas oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

"Artinya : Dan
(ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kepada kaumnya
: ‘Sesungguhnya aku menyatakan lepas dari segala yang kamu sembah,
kecuali Tuhan yang telah menciptakan-ku, karena sesungguhnya Dia akan
menunjuki’. Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang
kekal pada keturunannya supaya mereka senantiasa kembali (kepada
tauhid)". (Az-Zukhruf : 26-28).

"Artinya :
Katakanlah (Muhammad) : ‘Hai ahli kitab ! Marilah kamu kepada suatu
kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, yaitu ;
hendaklah kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan
sesuatu apapun dengan-Nya serta janganlah sebagian kita menjadikan
sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling
maka katakanlah kepada mereka :’Saksikanlah, bahwa kami adalah
orang-orang yang muslim (menyerahkan diri kepada Allah)". (Ali
‘Imran : 64).

Adapun dalil syahadat
bahwa Muhammad adalah Rasulullah.

Firman Allah Ta’ala.

"Artinya :
Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kalangan kamu
sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan
(keimanan dan keselamatan) untukmu, amat belas kasihan lagi penyayang
kepada orang-orang yang beriman". (Alt-Taubah : 128).

Syahadat bahwa Muhammad
adalah Rasulullah, berarti : mentaati apa yang diperintahkannya,
membenarkan apa yang diberitakannya, menjauhi apa yang dilarang serta
dicegahnya, dan menyembah Allah hanya dengan cara yang
disyariatkannya.

2. Dalil Shalat dan
Zakat serta tafsiran Tauhid.

Firman Allah Ta’ala.

"Artinya : Padahal
mereka tidaklah diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah,
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya lagi bersikap lurus, dan supaya
mereka mendirikan Shalat serta mengeluarkan Zakat. Demikian itulah
tuntunan agama yang lurus". (Al-Bayyinah : 5).

3. Dalil Shiyam

Firman Allah Ta’ala.

"Artinya : Wahai
orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kamu untuk melakukan
shiyam, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu,
agar kamu bertakwa". (Al-Baqarah : 183).

4. Dalil Haji.

Firman Allah Ta’ala.

"Artinya : Dan
hanya untuk Allah, wajib bagi manusia melakukan haji, yaitu (bagi)
orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Dan barangsiapa
yang mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Maha tidak
memerlukan semsesta alam". (Al ‘Imran : 97).

II.
Tingkatan Iman.

Iman itu lebih dari
tujuh puluh cabang. Cabang yang paling tinggi ialah syahadat "Laa
Ilaaha Ilallaah", sedang cabang yang paling rendah ialah
menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan sifat malu adalah salah satu
dari cabang Iman.

Rukun Iman ada enam,
yaitu :

  1. Iman kepada Allah.

  2. Iman kepada para
    Malaikat-Nya.

  3. Iman kepada
    Kitab-kitab-Nya.

  4. Iman kepada para
    Rasul-Nya.

  5. Iman kepada hari
    Akhirat, dan

  6. Iman kepada Qadar,
    yang baik dan yang buruk. (Qadar : takdir, ketentuan Ilahi. Yaitu :
    Iman bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam semesta ini adalah
    diketahui, dikehendaki dan dijadikan oleh Allah Subhanahu wa
    Ta’ala).

Dalil keenam rukun ini,
firman Allah Ta’ala.

"Artinya :
Berbakti (dari Iman) itu bukanlah sekedar menghadapkan wajahmu (dalam
shalat) ke arah Timur dan Barat, tetapi berbakti (dan Iman) yang
sebenarnya ialah iman seseorang kepada Allah, hari Akhirat, para
Malaikat, Kitab-kitab dan Nabi-nabi…".(Al-Baqarah : 177).

Dan firman Allah
Ta’ala.

"Artinya :
Sesungguhnya segala sesuatu telah Kami ciptakan sesuai dengan qadar".
(Al-Qomar : 49).

III.
Tingkatan Ihsan.

Ihsan, rukunnya hanya
satu, yaitu :

"Artinya :
Beribadah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamu melihat-Nya.
Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu".
(Pengertian Ihsan tersebut adalah penggalan dari hadits Jibril, yang
dituturkan oleh Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu, sebagaimana
akan disebutkan).

Dalilnya, firman Allah
Ta’ala.

"Artinya :
Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang
yang berbuat ihsan". (An-Nahl : 128).

Dan firman Allah
Ta’ala.

"Artinya : Dan
bertakwallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.
Yang melihatmu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan (melihat)
perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.
Sesunnguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
(Asy-Syu’araa : 217-220).

Serta firman-Nya.

"Artinya : Dalam
keadaan apapun kamu berada, dan (ayat) apapun dari Al-Qur’an yang
kamu baca, serta pekerjaan apa saja yang kamu kerjakan, tidak lain
kami adalah menjadi saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya".
(Yunus : 61).

Adapun dalilnya dari
Sunnah, ialah hadits Jibril1
yang masyhur, yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Al-Khaththab
Radhiyallahu ‘anhu.

"Artinya : Ketika
kami sedang duduk di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
tiba-tiba muncul ke arah kami seorang laki-laki, sangat putih
pakaiannya, hitam pekat rambutnya, tidak tampak pada tubuhnya
tanda-tanda sehabis dari bepergian jauh dan tiada seorangpun di
antara kami yang mengenalnya. Lalu orang itu duduk di hadapan Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan menyandarkan kelututnya pada
kedua lutut beliau serta meletakkan kedua telapak tangannya di atas
kedua paha beliau, dan berkata : ‘Ya Muhammad, beritahulah aku
tentang Islam’, maka beliau menjawab :’Yaitu : bersyahadat bahwa
tiada sesembahan yang haq selain Allah serta Muhammad adalah
Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, melakukan shiyam
pada bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah jika kamu
mampu untuk mengadakan perjalanan ke sana’. Lelaki itu pun berkata :
‘Benarlah engkau’. Kata Umar :’Kami merasa heran kepadanya, ia
bertanya kepada beliau, tetapi juga membenarkan beliau. Lalu ia
berkata : ‘Beritahulah aku tenatng Iman’. Beliau menjawab :’Yaitu :
Beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
Rasul-rasul-Nya dan hari Akhirat, serta beriman kepada Qadar yang
baik dan yang buruk’. Ia pun berkata : ‘Benarlah engkau’. Kemudian ia
berkata : ‘Beritahullah aku tentang Ihsan’. Beliau menjawab : Yaitu :
Beribadah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamu melihat-Nya.
Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu’. Ia
berkata lagi. Beritahulah aku tentang hari Kiamat. Beliau menjawab :
‘Orang yang ditanya tentang hal tersebut tidak lebih tahu dari pada
orang yang bertanya’. AKhirnya ia berkata :’Beritahulah aku sebagian
dari tanda-tanda Kiamat itu’. Beliau menjawab : Yaitu : ‘Apabila ada
hamba sahaya wanita melahirkan tuannya dan apabila kamu melihat
orang-orang tak beralas kaki, tak berpakaian sempurna melarat lagi,
pengembala domba saling membangga-banggakan diri dalam membangun
bangunan yang tinggi’. Kata Umar : Lalu pergilah orang laki-laki itu,
semantara kami berdiam diri saja dalam waktu yang lama, sehingga Nabi
bertanya : Hai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya itu ?
Aku menjawab : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau pun
bersabda : ‘Dia adalah Jibril, telah datang kepada kalian untuk
mengajarkan urusan agama kalian". (Hadits Riwayat Muslim dalam
Shahihnya, kitab Al-Iman, bab 1, hadits ke 1. Dan diriwayatkan juga
hadits dengan lafadz seperti ini dari Abu Hurairah oleh Al-Bukhari
dalam Shahih-nya, kitab Al-Iman, bab 37, hadits ke 1.)

Fote Note.

  1. Disebut hadits
    jibril, karena jibril-lah yang datang kepada Rasulullah Shallallahu
    ‘alaihi wa sallam, dengan menanyakan kepada beliau tentang, Islam,
    Iman dan masalah hari Kiamat. Hal itu dimaksudkan untuk memberikan
    pelajaran kepada kaum muslimin tentang masalah-masaalah agama.

MENGENAL NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA
SALLAM

Beliau adalah Muhammad
bin ‘Abdullah, bin ‘Abdul Muthallib, bin Hasyim. Hasyim adalah
termasuk suku Quraisy, suku Quraisy termasuk bangsa Arab, sedang
bangsa Arab adalah termasuk keturunan Nabi Isma’il, putera Nabi
Ibrahim Al-Khalil. Semoga Allah melimpahkan kepadanya dan kepada Nabi
kita sebaik-baik shalawat dan salam.

Beliau berumur 63
tahun, diantaranya 40 tahun sebelum beliau menjadi nabi dan 23 tahun
sebagai nabi dan rasul.

Beliau diangkat sebagai
nabi dengan "Iqra" yakni surah Al-‘Alaq : 1-5, dan diangkat
sebagai rasul dengan surah Al-Mudatstsir.

Tempat asal beliau
adalah Makkah.

Beliau diutus Allah
untuk menyampaikan peringatan menjauhi syirik dan mengajak kepada
tauhid. Dalilnya, firman Allah Ta’ala.

"Artinya : Wahai
orang yang berselimut ! Bangunlah, lalu sampaikanlah peringatan.
Agungkanlah Tuhanmu. Sucikalah pakaianmu. Tinggalkanlah
berhala-berhala itu. Dan janganlah kamu memberi, sedang kamu
menginginkan balasan yang lebih banyak. Serta bersabarlah untuk
memenuhi perintah Tuhanmu". (Al-Mudatstsir : 1-7).

Pengertian :

  • ·"Sampaikanlah
    peringatan", ialah menyampaikan peringatan menjauhi syirik dan
    mengajak kepada tauhid.

  • ·"Agungkanlah
    Tuhanmu". Agungkanlah Ia dengan berserah diri dan beribadah
    kepada-Nya semata-mata.

  • ·"Sucikanlah
    pakaianmu", maksudnya ; Sucikanlah segala amalmu dari perbuatan
    syirik.

  • ·"Tinggalkanlah
    berhala-berhala itu", artinya : Jauhkan dan bebaskan dirimu
    darinya serta orang-orang yang memujanya.

Beliaupun melaksanakan
perintah ini dengan tekun dan gigih selama sepuluh tahun, mengajak
kepada tauhid. Setelah sepuluh tahun itu beliau di mi’rajkan
(diangkat naik) ke atas langit dan disyari’atkan kepada beliau shalat
lima waktu. Beliau melakukan shalat di Makkah selama tiga tahun.
Kemudian, sesudah itu, beliau diperintahkan untuk berhijrah ke
Madinah.

Hijrah, pengertiannya,
ialah : Pindah dari lingkungan syirik ke lingkungan Islami.

Hijrah ini merupakan
kewajiban yang harus dilaksanakan umat Islam. Dan kewajiban tersebut
hukumnya tetap berlaku sampai hari kiamat. Dalil yang menunjukkan
kewajiban hijrah, yaitu firman Allah Ta’ala.

"Sesungguhnya
orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan zhalim
terhadap diri mereka sendiri 1,
kepada mereka malaikat bertanya :’Dalam keadaan bagaimana kamu ini .?
‘Mereka menjawab : Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri
(Makkah). Para malaikat berkata : ‘Bukankah bumi Allah itu luas,
sehingga kamu dapat berhijrah (kemana saja) di bumi ini ?. Maka
mereka itulah tempat tinggalnya neraka Jahannam dan Jahannam itu
adalah seburuk-buruk tempat kembali. Akan tetapi orang-orang yang
tertindas di antara mereka, seperti kaum lelaki dan wanita serta
anak-anak yang mereka itu dalam keadaan tidak mampu menyelamatkan
diri dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), maka mudah-mudahan
Allah memaafkan mereka. Dan Allah adalah Maha Pema’af lagi Maha
Pengampun". (An-Nisaa : 97-99).

Dan firman Allah
Ta’ala.

"Artinya : Wahai
hamba-hamba-Ku yang beriman ! Sesungguhnya, bumi-Ku adalah luas, maka
hanya kepada-Ku saja supaya kamu beribadah". (Al-Ankabuut : 56).

Al-Baghawai 2,
Rahimahullah, berkata :"Ayat ini, sebab turunnya, adalah
ditujukan kepada orang-orang muslim yang masih berada di Makkah, yang
mereka itu belum juga berhijrah. Karena itu, Allah menyeru kepada
mereka dengan sebutan orang-orang yang beriman".

Adapun dalil dari
Sunnah yang menunjukkan kewajiban hijrah, yaitu sabda Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

"Artinya : Hijrah
tetap akan berlangsung selama pintu taubat belum ditutup, sedang
pintu taubat tidak akan ditutup sebelum matahari terbit dari barat".
(Hadits Riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad, jilid 4, hal. 99. Abu
Dawud dalam Sunan-nya, kitab Al-Jihad, bab 2, dan Ad-Darimi dalam
Sunan-nya, kitab As-Sam, bab 70).

Setelah Nabi Muhammad
menetap di Madinah, disyariatkan kepada beliau zakat, puasa, haji,
adzan, jihad, amar ma’ruf dan nahi mungkar, serta syariat-syariat
Islam lainnya.

Beliau-pun melaksanakan
untuk menyampaikan hal ini dengan tekun dan gigih selama sepuluh
tahun. Sesudah itu wafatlah beliau, sedang agamanya tetap dalam
keadaan lestari.

Inilah agama yang
beliau bawa : Tiada suatu kebaikan yang tidak beliau tunjukkan kepada
umatnya dan tiada suatu keburukan yang tidak beliau peringatkan
kepada umatnya supaya di jauhi. Kebaikan yang beliau tunjukkan ialah
tauhid serta segala yang dicintai dan diridhai Allah, sedang
keburukan yang beliau peringatkan supaya dijauhi ialah syirik serta
segala yang dibenci dan tidak disenangi Allah.

Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, diutus oleh Allah kepada seluruh umat
manusia, dan diwajibkan kepada seluruh jin dan manusia untuk
mentaatinya. Allah Ta’ala berfirman.

"Artinya :
Katakanlah. ‘Wahai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah
kepada kamu semua". (Al-Araaf : 158).

Dan melalui beliau,
Allah telah menyempurnakan agama-Nya untuk kita, firman Allah Ta’ala.

"..Pada hari ini
3, telah Aku sempurnakan
untukmu agamamu dan Aku lengkapkan kepadamu ni’mat-Ku serta Aku
ridhai Islam itu menjadi agama bagimu". (Al-Maaidah : 3).

Adapun dalil yang
menunjukkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga wafat,
ialah firman Allah Ta’ala.

"Artinya
:Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka-pun akan mati
(pula). Kemudian, sesungguhnya kamu nanti pada hari kiamat berbantah-
bantahan di hadapan Tuhanmu". (Az-Zumar : 30-31).

Manusia sesudah mati,
mereka nanti akan dibangkitkan kembali. Dalilnya firman Allah Ta’ala.

"Artinya : Berasal
dari tanahlah kamu telah Kami jadikan dan kepadanya kamu Kami
kembalikan serta darinya kamu akan Kami bangkitkan sekali lagi"
(Thaa-haa : 55).

Dan firman Allah
Ta’ala.

"Artinya : Dan
Allah telah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya,
kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalamnya (lagi) dan (pada hari
Kiamat) Dia akan mengeluarkan kamu dengan sebenar-benarnya".
(Nuh : 17-18).

Setelah manusia
dibangkitkan, mereka akan di hisab dan diberi balasan sesuai dengan
amal perbuatan mereka, firman Allah Ta’ala.

"Artinya : Dan
hanya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di
bumi, supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat
buruk sesuai dengan perbuatan mereka dan memberi balasan kepada
orang-orang yang berbuat baik dengan (pahala) yang lebih baik
(surga)".(An-Najm : 31).

Barangsiapa yang tidak
mengimani kebangkitan ini, maka dia adalah kafir, firman Allah
Ta’ala.

"Artinya : (Kami
telah mengutus) rasul-rasul menadi penyampai kabar gembira dan
pemberi peringatan, supaya tiada lagi suatu alasan bagi menusia
membantah Allah sebelum (diutusnya), serta beliulah penutup para
nabi". (An-Nisaa : 165).

"Artinya :
Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka tidak akan
dibangkitkan. Katakan : ‘Tidaklah demikian. Demi Tuhanku, kamu pasti
akan dibangkitkan dan niscaya akan diberitakan kepadamu apapun yang
telah kamu kerjakan. Yang demikian itu adalah amat mudah bagi Allah".
(At-Tghaabun : 7).

Allah telah mengutus
semua rasul sebagai penyampai kabar gembira dan pemberi peringatan.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala.

"Artinya : (Kami
telah mengutus) rasul-rasul menjadi penyampai kabar gembira dan
pemberi peringatan supaya tiada lagi suatu alasan bagi manusia
membantah Allah setelah (diutusnya) para rasul itu .." (An-Nisaa
: 165).

Rasul pertama adalah
Nabi Nuh ‘Alaihissalam 4, Dan
rasul terkahir adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
serta beliaulah penutup para nabi.

Dalil yang menunjukkan
bahwa rasul pertama adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, firman Allah Ta’ala.

"Artinya :
Sesungguhnya Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah
mewahyukan kepada Nuh dan para nabi sesudahnya .." (An-Nisaa :
163).

Dan Allah telah
mengutus kepada setiap umat seorang rasul, mulai dari Nabi Nuh sampai
Nabi Muhammad, dengan memerintahkan mereka untuk beribadat kepada
Allah semata-mata dan melarang mereka beribadah kepada thagut. Allah
Ta’ala berfirman.

"Artinya : Dan
sesungguhnya, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul
(untuk menyerukan) :’Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah
thagut itu ..". (An-Nahl : 36).

Dengan demikian, Allah
telah mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya supaya bersikap kafir
terhadap thagut dan hanya beriman kepada-Nya.

Ibnu Al-Qayyim 5,
Rahimahullah Ta’ala, telah menjelaskan pengertian thagut tersebut
dengan mengatakan.

"Artinya : Thagut,
ialah setiap yang diperlakukan manusia secara melampui batas (yang
telah ditentukan oleh Allah), seperti dengan disembah, atau diikuti
atau dipatuhi".

Dan thagut itu banyak
macamnya, tokoh-tokohnya ada lima :

  1. Iblis, yang telah
    dilaknat oleh Allah.

  2. Orang yang
    disembah, sedang dia sendiri rela.

  3. Orang yang
    mengajak manusia untuk menyembah dirinya.

  4. Orang yang mengaku
    tahu sesuatu yang ghaib, dan

  5. Orang yang
    memutuskan sesuatu tanpa berdasarkan hukum yang telah diturunkan
    oleh Allah.

Allah Ta’ala berfirman.

"Artinya : Tiada
paksaan dalam (memeluk) agama ini. Sungguh telah jelas kebenaran dari
kesesatan. Untuk itu, barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan
beriman kepada Allah, maka dia benar-benar telah berpegang teguh
dengan tali yang terkuat, yang tidak akan terputus tali itu. Dan
Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui". (Al-Baqarah : 256).

Ingkar kepada semua
thagut dan iman kepada Allah saja, sebagaimana dinyatakan dalam ayat
tadi, adalah hakekat syahadat "Laa Ilaaha Ilallah".

Dan diriwayatkan dalam
hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Pokok
agama ini adalah Islam 6, dan
tiangnya adalah shalat, sedang ujung tulang punggungnya adalah jihad
fi sabilillah". (Hadits Shahih riwayat Ath-Thabarani dari Ibnu
Umar Radhiyallahu anhu, dan riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Jaami
Ash-Shahih, kitab Al-Imaan, bab 8).

Hanya Allah-lah Yang
Mahatau. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan Allah
kepada Nabi Muhammad kepada keluarga dan para sahabatnya.

Fote Note.

  1. Yang dimaksud
    dengan orang-orang yang zhalim terhadap diri mereka sendiri dalam
    ayat ini, ialah orang-orang penduduk Makkah yang sudah masuk Islam
    tetapi mereka tidak mau hijrah bersama Nabi, padahal mereka mampu
    dan sanggup. Mereka ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir
    supaya ikut bersama mereka pergi ke perang Badar, akhirnya ada
    diantara mereka yang terbunuh.

  2. Abu Muhammad
    Al-Husein bin Mas’ud bin Muhammad Al-Farra’ atau Ibnu Al-Farra’. Al
    Baghawi (436-510H – 1044-1117M). Seorang ahli dalam bidang fiqh,
    hadits dan tafsir. Di antara karyanya : At-Tahdziib (fiqh), Syarh
    As-Sunnah (hadits), Lubaab At-Ta’wiil fi Ma’aalim At-Tanziil
    (tafsir).

  3. Maksudnya, adalah
    hari Jum’at ketika wukuf di Arafah, pada waktu Haji Wada.

  4. Selain dalil dari
    Al-Qur’an yang disebutkan Penulis, yang menunjukkan bahwa Nabi Nuh
    adalah rasul pertama, di sana juga ada hadits shahih yang menyatakan
    bahwa Nabi Nuh adalah rasul pertama yang di utus kepada penduduk
    bumi ini, seperti hadits riwayat Al-Bukhari dalam Shahih-nya kitab
    Al-Anbiya, bab 3 dan riwayat Muslim dalam Shahih-nya kitab Al-Iman,
    bab. 84. Adapun Nabi Adam Alaihissalam, menurut sebuah hadits yang
    diriwayatkan dari Abu Dzar Al-Ghifari, Radhiyallahu anhu. Beliau
    adalah nabi pertama. Dan disebutkan dalam hadits ini bahwa jumlah
    para nabi ada 124 ribu orang, dari jumlah tersebut sebagai rasul 315
    orang, dan dalam riwayat lain disebutkan 310 orang lebih. Lihat :
    Imam Ahmad, Al-Musnad, jilid 5, hal. 178, 179 dan 265.

  5. Abu Abdillah :
    Muhammad bin Abu Bakar, bin Ayyub, bin Said, Az-Zur’i,Ad-Dimasqi,
    terkenal dengan Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah (691-751H – 1292 –
    1350M). Seorang ulama yang giat dan gigih dalam mengajak umat Islam
    pada zamannya untuk kembali kepada tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah
    serta mengikuti jejak para Salaf Shalih. Mempunyai banyak karya
    tulsi, antara lain : Madaarij As-Salikin, Zaad Al-Ma’aad, Thariiq
    Al-Hijratain wa Baab As-Sa’aadatain, At-Tibyaan fi Aqwaam
    Al-Qur’aan, Miftah Daar As-Sa’aadah.

  6. Silahkan melihat
    kembali pengertian Islam yang disebutkan oleh Penulis, dalam Tiga
    Landasan Utama bagian 3/4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: