Tamasya Surga

ORANG-ORANGYANG BERHAK MENDAPATKAN BERITA GEMBlRA

Allah Ta’ala befirman,

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi buah-buahan dalam surga-surga itu. ” (A1-Baqarah: 25).

Allah Ta’ala befirman,

“Ingatlah, bahwa wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan ( dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu, adalah kemenangan yang besar ” (Yunus: 62-64).

Allah Ta’ala befirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan). Janganlah kalian merasa takut dan janganlah kalian merasa sedih, dan bergembiralah kalian dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian.”

(Fushshilat: 30).

Allah Ta’ala befirman,

“Maka sampaikan berita gembira ini kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. ” (Az-Zumar:17-18).

Allah Ta’ala befirman,

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan. Tuhan mereka memberi berita gembira kepada mereka dengan rahmat daripada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal. ” (At- Taubah: 20-21).

Allah Ta’ala befirman,

“Dan orang-orang yang shalih dan mengerjakan amal shalih, maka berada di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar: Itulah (karunia) yang ( dengan itu) Allah memberi berita gembira kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal shalih. ” (Asy-Syura: 22-23).

Allah Ta’ala befirman,

“Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Yang Maha Pemurah walau pun dia tidak melihat-Nya. Maka berilah berita gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. “ (Yasin: 11).

Allah Ta’ala befirman,

“Hai nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, dan pembawa berita gembira dan pemberi peringatan dan untuk menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang Mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah. ” (Al-Ahzab: 45-47).

Allah Ta’ala befirman,

‘Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup dan di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. ” (Ali Imran: 169-171).

Allah Ta’ala befirman,

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menetapi janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kalian lakukan dan itulah kemenangan yang besar:” (At-Taubah: 111).

Allah Ta’ala befirman,

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta benda, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar: (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. ‘ Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempuma dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk. ” (Al-Baqarah: 155-157).

Tentang surga, Allah Ta’ala befirman,

“Surga disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. ” (Ali Imran: 133).

“Surga disediakan bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih.” (Al-Hadid: 21).

Allah Ta’ala befirman,

“Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah Surga Firdaus yang menjadi tempat tinggalnya. Mereka kekal di dalamnya. ” (Al-Kahfi: 107).

Allah Ta’ala befirman,

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orangyang beriman. (Yaitu) orang- orang yang khusyu , dalam shalatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (Perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barangsiapa mencari selain itu, maka mereka itulah orang-orang yang melewati batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orangyang akan mewarisi. (Yakni) yang akan mewarisi Surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. “ (Al-Mukminun: 1-11).

Dalam Musnad dan lainnya disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Belum lama telah diturunkan kepadaku sepuluh ayat. Barangsiapa menegakkan kesepuluh ayat tersebut, maka ia masuk surga. Setelah itu, beliau mengutip ayat, ‘Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyu ‘ dalam shalatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (Perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barangsiapa mencari selain itu, maka mereka itulah orang-orang yang melewati batas. Danorang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. (Yakni) yang akan mewarisi Surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. ” (Al-Mukminun: 1-11).

Allah Ta’ala befirman :

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan perempuan yang Mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bershadaqah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar ” (Al-Ahzab: 35).

Allah Ta’ala befirman,

“Orang-orang yang bertaubat, yang memuji (Allah) , yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat yang baik dan mencegah berbuat yang mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan bergembiralah orang-orang Mukmin tersebut. “(At- Taubah: 112).

Allah Ta’ala befirman,

“Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.“ (Maryam: 63).

Allah Ta’ala befirman,

“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) , baik pada waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosanya dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. ” (Ali Imran: 133-136).

Allah Ta’ala befirman,

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kalian Aku tunjukan suatu pemiagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih? (Yaitu) kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Itulah yang lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan memasukkan kalian ke tempat tinggal yang baik di Surga Aden. Itulah keberuntungan yang besa1: Dan ( ada lagi) karunia yang lain yang kalian sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Dan sampaikan berita gembira ini kepada orang-orang yang beriman. ” (Ash-Shaf: 10-13) .

Allah Ta’ala befirman,

“Dan bagi orang yang takut kepada Tuhannya, maka ada dua surga. “

(Ar- Rahman: 46) .

Allah Ta’ala befirman,

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya. ” (An-Nazi’at: 40-41).

Berita gembira seperti di atas di dalam Al-Qur’an sangat banyak. Namun bisa disimpulkan bahwa porosnya hanyalah tiga prinsip besar saja. Yaitu iman, takwa dan amal yang ikhlas karena Allah Ta’ala plus sinkron dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Jadi, orang-orang yang mempunyai ketiga prinsip itulah sesungguhnya yang berhak mendapatkan berita gem bira ini dan bukannya orang-orang selain mereka. Seluruh berita gembira yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah berputar pada poros tersebut. Ketiga prinsip besar tersebut bisa diperkecil menjadi dua prinsip besar, yaitu: Ikhlas dalam taat kepada Allah Ta’ala dan berbuat baik kepada makhluk-Nya dan kebalikannya teringkas pada orang-orang yang riya’ dalam ibadahnya kepada Allah Ta ‘ala dan pelit terhadap orang lain. Kedua prinsip besar tersebut masih bisa diperingkas lagi menjadi satu prinsip besar yaitu upaya sinkronisasi total kepada Allah Tabaraka wa Ta ‘ala. Dan satu-satu jalan kepada tujuan tersebut ialah adaptasi (aktualisasi) diri; luar dan dalam kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Adapun amal perbuatan yang merupakan detail prinsip tersebut, maka berjumlah lebih dari tujuh puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah statement laa ilaha illallahu (tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja) dan cabang terendah ialah menyingkirkan gangguan seperti batu, paku atau lainnya dari jalan. Di antara kedua cabang tersebut terdapat banyak cabang dan semua kata kuncinya adalah membenarkan seluruh informasi yang disampaikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mentaati segala titahnya; yang wajib dan yang sunat. Seperti halnya beriman kepada asma’ Allah, sifat-sifat-Nya dan segala tindakan-Nya tanpa melakukan tahrif (distori) kepada-Nya atau ta’thil (pengosongan) atau takyif (pendetailan) dan tasybih (penyerupaan).

Persisnya sebagaimana dikatakan Imam Syafi’i Rahimahullah, “Segala puji bagi Allah. Dia persis seperti yang Dia sifatkan kepada Diri-Nya dan di atas semua yang disifatkan makhluk-Nya.” Sepertinya Imam Syafi’I mengutip sabda Rasulu11ah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Ya Allah, untuk-Mu puji-pujian sebagaimana yang Engkau firmankan dan lebih baik daripada yang kami ucapkan. “

Pada pendahuluan buku ini (Tamasya ke Syurga), telah saya (Ibnul Qayyim Al-Jauziyah) kemukakan tulisan sejumlah ulama Ahlus-Sunnah wal Hadits tentang butir-butir kesepakatan mereka sebagaimana dikutip Al-Asy’ari dari mereka. Dan sekarang kami kemukakan ringkasan konsesus mereka sebagaimana diriwayatkan sahabat Imam Ahmad dari mereka.

Kata sahabat Imam Ahmad, “Inilah madzhab para ulama, orang-orangyang cinta atsar dan Ahlus-Sunnah yang konsekwen dengan Sunnah dan mengikuti mereka dalam mengamalkan Sunnah sejak zaman Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sampai zaman kita sekarang. Sungguh aku telah bertemu dengan ulama-ulama Hijaz, Syam dan daerah-daerah lain yang menganut pendapat Ahlus-Sunnah. Oleh karena itu, barangsiapa bertentangan dengan prinsip madzhab ini atau mengecamnya atau menyalahkan orang yang berpendapat dengan pendapatnya, maka ia seorang pembangkang, tukang bid’ah, keluar dari jama’ah kaum Muslimin dan menyempal dari manhaj Sunnah dan jalan yang benar.”

Sambung sahabat Imam Ahmad, “Ini adalah madzhab Imam Ahmad, Ishaq bin Ibrahim, Abdullah bin Makhlad, Abdullah bin Zubair Al-Hamidi, Sa’id bin Manshur dan ulama-ulama lainnya dimana kami pemah menimba ilmu dari mereka. Di antara yang mereka katakan adalah, “Bahwa iman adalah ucapan, tindakan dan niat serta konsekwen dengan Sunnah. Bahwa iman selalu bertambah dan berkurang. Iman mempunyai pengecualian namun tidak karena sikap ragu-ragu. Ini adalah Sunnah abadi menurut para ulama. Jika ditanyakan kepada seseorang, “Apakah Anda orang beriman?” Maka orang tersebut pasti menjawab, “Aku beriman insya Allah atau aku berharap menjadi orang beriman atau aku beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. “

Barangsiapa berpendapat bahwa iman hanya ucapan dan bukan tindakan, maka ia pengikut sekte Murji’ah. Barangsiapa berpendapat bahwa iman hanyalah ucapan sedang tindakan adalah hukum alam, maka ia pengikut sekte Murji’ah. Barangsiapa berkeyakinan bahwa iman bertambah dan tidak berkurang, maka sungguh ia mengatakan pendapat sekte Murji’ah. Barangsiapa merubah pengecualian iman, maka ia termasuk pengikut sekte Murji’ah.

Barangsiapa mengaku imannya seperti iman Malaikat Jibril, maka ia pengikut sekte Murji’ah. Barangsiapa berkeyakinan bahwa ma’rifah terletak di dalam hati meskipun tidak diungkapkan dengan lisannya, maka ia pengikut sekte Murji’ah. Takdir, baik buruknya, sedikit banyaknya, luar dalamnya, manis pahitnya, disukai atau dibenci, yang pertama dan terakhir semuanya berasal dari Allah dan keputusan yang diberlakukan kepada hamba-hamba-Nya. Allah telah membuat ketetapan pada manusia bahwa tidak ada satu orang dari mereka yang lolos dan terlepas dari kehendak dan keputusan-Nya. Semua orang berjalan terhadap apa yang telah diciptakan kepada mereka, jatuh ke dalam ketetapan yang telah diputuskan kepada mereka. Ini adalah salah satu wujud keadilan dari Allah Azza wa Jalla.

Zina, pencurian, meminum-minuman keras, membunuh, memakan harta haram, syirik dan kemaksiatan. Semuanya berjalan sesuai dengan keputusan Allah dan tidak seorang pun diperbolehkan melayangkan protes kepada Allah atas kasus-kasus di atas. Allah berhak menanyakan seluruh makhluk-Nya. Dia tidak boleh ditanyakan terhadap apa yang dikerjakan-Nya dan justru manusia yang kelak ditanya terhadap seluruh tindakannya. Allah Azza wa Jalla telah mengetahui masa lalu hamba-hamba-Nya dengan kehendak-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengetahui kemaksiatan iblis sebelum terjadi. Begitu juga kemaksiatan selain iblis yang bemaksiat kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala sejak dulu kala sampai Hari Kiamat karena Dia menciptakan mereka untuk bemaksiat.

Allah telah tahu ketaatan yang belum dikerjakan orang-orang yang taat karena Dia menciptakan mereka untuk taat. Jadi setiap orang bertindak sesuai dengan penciptaannya dan berjalan ke arah keputusan Allah. Tidak ada seorang pun yang lolos dari takdir dan kehendak-Nya. Allah selalu mengerjakan apa yang diinginkan-Nya. Barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan dan ketaatan pada hamba-hamba-Nya yang bermaksiat kepada-Nya lagi congkak dan bahwa hamba-hamba-Nya yang bemaksiat lagi congkak tersebut dapat menghendaki kejahatan dan kemaksiatan untuk dirinya kemudian mereka bertindak atas kehendak mereka sendiri, maka orang tersebut berarti mengklaim bahwa kehendak manusia lebih unggul daripada kehendak Allah Ta’ala. Adakah kebohongan terhadap Allah yang melebihi kebohongan ini?

Barangsiapa berkeyakinan bahwa kasus perzinahan bukan termasuk takdir Allah. Jika ditanyakan kepada orang tersebut, ‘Jika wanita yang berzina hamil kemudian melahirkan anak, apakah Allah Azza wa Jalla berkehendak menciptakan bayi tersebut? Apakah hal tersebut telah diketahui Allah sebelumnya?’ Jika orang tersebut menjawab, ‘Tidak!’ Maka sungguh ia berkeyakinan bahwa ada pihak lain selain Allah dalam penciptaan bayi tersebut dan ini syirik seratus persen.

Barangsiapa berkeyakinan bahwa kasus pencurian, meminum minuman keras dan memakan harta haram itu bukan dengan qadha’ dan takdir Allah; maka orang tersebut mengklaim bahwa ia dapat makan rezki selain rezki Allah. Ini adalah pendapat orang-orang Majusi. Yang benar bahwa orang tersebut makan rezki yang telah diputuskan Allah untuk ia makan dari sumber penghidupannya.

Barangsiapa berpendapat bahwa kasus pembunuhan tidak melibatkan takdir Allah Azza wa Jalla. Maka secara tidak langsung ia berkeyakinan bahwa korban yang terbunuh mati di luar ajal yang telah ditetapkan Allah. Adakah kekafiran yang melebihi kekafiran ini? Yang benar bahwa itu semua berlangsung sesuai dengan ketetapan Allah Azza wa Jalla. Itu1ah keadilan Allah pada makhluk-Nya dan rekayasa Allah pada mereka. Semuanya telah diketahui Allah sebelumnya. Dia Mahaadil, Mahabenar dan bertindak sesuai dengan keinginan-Nya.

Barangsiapa mengaku tahu Allah, maka ia harus mengakui qadar dan kehendakAllah dalam hal-hal sepele atau penting. Kita tidak memastikan bahwa Ahlul Kiblat masuk neraka hanya karena maksiat dan dosa dikerjakannya terkecuali ada hadits nabi yang menyatakan hal terebut. Kita juga tidak memastikan seseorang masuk surga karena hal baik yang dilakukannya terkecuali ada dalil hadits yang menegaskannya.

Jabatan khalifah adalah hak kabilah Quraisy meskipun di dunia ini tinggal tersisa dua orang. Setiap orang tidak diperkenankan melawan mereka dan membelot dari mereka. Kita tidak memberikan jabatan khalifah tersebut kepada seseorang selain dari kalangan mereka hingga hari Kiamat. Jihad bersama pemimpin yang baik atau tidak baik adalah kewajiban abadi. Jihad tidak terhapus oleh kekejaman penguasa dan tidak pula oleh keadilan pemimpin yang adil. Kita mengerjakan shalat Jum’at dan dua hari raya bersama-sama dengan pemimpin kita kendati dia tidak baik atau tidak adil. Kita serahkan sumbangan, pajak, upeti, fa’i dan ghanimah kepadanya baik ia adil di dalamnya atau tidak.

Patuh kepada pemimpin yang diangkat Allah Azza wa Jalla adalah perintah-Nya kepada kalian. Tidak boleh membangkangnya atau melawannya dengan mengangkat senjata hingga Allah memberi jalan keluar kepada kalian. Kita tidak memberontak terhadap pemimpin kita. Apa yang dia katakan, maka dengarkan dan kerjakan. Anda jangan membatalkan bai’at-mu (sumpah setia) kepadanya. Barangsiapa melakukan itu semua, maka ia tukang bid’ah, pembelot dan keluar dari jama’ah kaum Muslimin. Jika pemimpinmu menyuruh Anda mengerjakan tugas yang di dalamnya terdapat pelanggaran terhadap Allah, maka Anda berhak menolak perinh tugasnya. Namun Anda tetap tidak diperbolehkan membelot daripadanya dan Anda tidak diperkenankan melupakan haknya atas diri Anda. Menahan diri pada saat terjadinya fitnah adalah Sunnah yang abadi dan wajib dihormati. Jika Anda diuji, maka persembahkan nyawamu demi tegaknya agama Anda. Jangan mendukung terjadinya fitnah, dengan tangan atau lisan. Kendalikan lisan Anda, tangan Anda dan hawa nafsu Anda. Sesungguhnya Allah Maha Penolong.

Jagalah diri Anda terhadap Ahlul Kiblat. Jangan mengkafirkan seorang dari mereka karena dosa yang dilakukannya. Jangan memvonis mereka murtad karena tindakannya terkecuali ada hadits yang menyatakan hal tersebut. Apa saja yang disabdakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka benarkan dan terimalah. Ketahuilah sesungguhnya telah diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa dicap kafir orang yang merubah status orang yang meninggalkan shalat, minum-minuman keras dan lain sebagainya. Atau membuat amalan bid’ah yang menyebabkan pelakunya kafir dan murtad dari Islam. Ikuti prinsip ini dan jangan melanggar batasannya. Dajjal yang matanya buta sebelah pasti muncul dan tidak diragukan lagi. Dajjal adalah makhluk yang paling banyak kebohongannya.

Siksa kubur adalah benar adanya. Di dalamnya, Allah bertanya kepada setiap orang tentang agamanya, Tuhannya, surga dan neraka. Munkar dan Nankir adalah benar adanya. Keduanya adalah penjaga kubur. Semoga Allah memberi keteguhan kepada kita.

Kolam Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah benar adanya dan kolam tersebut kelak diserbu oleh umatnya dengan membawa tempat minum lalu meminum air kolam tersebut dengan tempat minumnya masing-masing.

Shirat (titian) adalah benar adanya. Ia dipasang di atas Neraka Jahannam. Manusia berjalan di atas menuju surga yang ada di seberangnya. Mizan (timbangan) adalah benar adanya. Kebaikan dan kejelekan ditimbang di situ sesuai dengan kehendak Allah. Shur (terompet) adalah benar adanya. la ditiup oleh Malaikat lsrafil kemudian seluruh manusia mati. Malaikat lsrafil meniupnya sekali lagi lalu mereka bangkit dari kubumya menuju Rabbul alamin untuk dihisab, menunggu pengadilan-Nya, pahala atau siksa, dan surga atau neraka.

Lauh Mahfudz adalah benar adanya. Di dalamnya, seluruh perbuatan manusia disusun setelah sebelumnya diberikan qadha’ dan takdimya. Qalam (pena) adalah benar adanya. Dengannya Allah menulis takaran segala sesuatu. Syafa’at pada Hari Kiamat adalah benar adanya. Orang memberikannya kepada orang lain sehingga tidak jadi masuk neraka. Ada suatu kaum yang dikeluarkan dari dalam neraka setelah sekian lama atas kehendak Allah bertempat tinggal di dalamnya. Dan ada kaum lain yang kekal abadi di dalamnya. Mereka adalah pelaku syirik, kebohongan, kedurhakaan dan kekafiran kepada Allah Azza wa Jalla. Pada Hari Kiamat, kematian disembelih di suatu tempat di antara surga dan neraka. Surga dan seisinya telah diciptakan begitu juga neraka. Allah Azza wa Jalla telah menciptakan keduanya dan menciptakan makhluk untuk menempati keduanya. Surga dan neraka serta seisinya tidak musnah. Jika tukang bid’ah dan orang kafir ber-hujjah dengan firman Allah Azza wa Jalla,

“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali Allah. “ (Al-Qashash: 88).

Dan ayat-ayat mutasyabihat yang lain, maka katakan padanya bahwa segala sesuatu yang ditentukan Allah musnah dan hancur pasti musnah dan hancur. Kecuali surga dan neraka karena keduanya memang diciptakan untuk kekal abadi. Keduanya berada di alam akhirat dan tidak di alam dunia sekarang ini. Para bidadari yang bermata jelita tidak mati ada Hari Kiamat atau ketika terompet ditiup atau lain-lainnya. Mereka hidup selama-lamanya karena Allah Azza wa Jalla menciptakan mereka untuk kekal abadi dan tidak memberikan kematian pada mereka.

Barangsiapa tidak sependapat dengan pendapat ini, maka ia tukang bid’ah dan menyimpang dari jalan yang benar. Allah menciptakan tujuh langit. Sebagian langit berada di atas sebagian langit yang lain. Allah menciptakan tujuh bumi. Sebagian bumi berada di bawah sebagian bumi yang lain. Jarak antara bumi yang paling atas dengan langit yang paling rendah adalah perjalanan selama lima ratus tahun. Jarak antara langit dengan langit yang lain adalah lima ratus tahun. Air terletak di atas langit ke tujuh dan Arasy Ar-Rahman Azza wa Jalla terletak di atas air tersebut. Allah berada di atas Arasy-Nya dan kursi adalah tempat pijakan kedua Kaki-Nya. Dia mengetahui apa saja yang ada di semua langit, semua bumi dan seisinya, di bawah semua bintang, di dasar lautan, di lubang tempat tumbuhnya rambut, pohon, biji-bijian dan tanaman, tempat jatuh setiap pohon, jumlah perkataan semua orang, jumlah lumpur, jumlah kerikil, jumlah tanah, kandungan gunung-gunung, semua perbuatan manusia, jejak kaki mereka, pembicaraan mereka dan napas mereka.

Allah mengetahui segala sesuatu. Tidak ada yang tersembunyi daripada-Nya. la berada di atas Arasy-Nya di atas langit ketujuh. Di bawah Arasy-Nya terdapat dinding pembatas dari api, cahaya, kegelapan dan apa saja yang hanya diketahui Allah. Apabila tukang bid’ah atau penyempal berhujjah dengan firman Allah Azza wa Jalla,

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. ” (Qaaf:16).

Dan firman Allah Azza wa Jalla,

“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tiada pembicaraan antara lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) orang yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. ” (Al-Mujadilah:7).

Serta ayat-ayat mutasyabihat lainnya, maka katakan kepadanya bahwa yang dimaksud dengan tahu pada ayat di atas ialah bahwa Allah Azza wa Jalla yang berada di atas Arasy-Nya di atas langit ketujuh bisa melihat itu semua. Allah melihat semua makhluk-Nya dan tidak ada satu tempat pun yang tidak terlihat oleh-Nya. Allah mempunyai Arasy dan Arasy mempunyai tenaga pemikulnya yang memikulnya. Allah Azza wa Jalla bersemayam di atas Arasy-Nya tanpa batas. Allah Azza wa Jalla Maha Mendengar dan ini tidak perlu diragukan. Allah Maha Melihat dan hal ini tidak perlu diragukan. Allah Maha Pemurah dan tidak pelit.

Allah cermat dan tidak gegabah. Allah Mahahapal dan tidak lupa. Allah Mahadekat dan tidak jauh. Allah befirman, melihat dan memberi. Allah tertawa dan bahagia. Allah suka, benci dan murka. Allah ridha dan marah. Allah jengkel dan menyayangi. Allah memberi maaf dan ampunan. Allah memberi dan menyetop pemberian-Nya.

Pada setiap malam, Allah turun ke langit dunia seperti yang dikehendaki-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang mirip dengan-Nya. Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat. Hati semua manusia berada di antara dua jari Ar-Rahman. Allah membolak-balik semua hati tersebut sekehendak-Nya dan menyadarkannya seperti yang diinginkan-Nya. Dia menciptakan Adam dengan Tangan-Nya sendiri. Pada Hari Kiamat, semua langit dan bumi berada dalam genggaman-Nya. Dia menginjakkan Kaki-Nya ke neraka kemudian neraka tersebut ringsek. Dia mengeluarkan banyak orang dari dalam neraka dengan Tangan-Nya. Wajah-Nya bisa dilihat penghuni surga kemudian Dia memberi tambahan kemuliaan kepada mereka. Pada Hari Kiamat, seluruh hamba-hamba-Nya menghadap kepada-Nya dan Dia sendiri yang menghisab orang sebanyak itu. Hal tersebut mustahil bisa diketiakan selain Allah Azza wa Jalla.

Al-Qur’an adalah Kalamullah dan bukan makhluk. Barangsiapa mengatakan Al-Qur’an makhluk, maka ia pengikut sekte Jahmiyah dan kafir. Barangsiapa mengatakan Al-Qur’an Kalamullah kemudian diam dan tidak meneruskan ucapannya dengan mengatakan bukan makhluk, maka ia lebih bejat daripada penganut sekte Jahmiyah. Barangsiapa berkeyakinan bahwa ucapan kita dan bacaan Al-Qur’an kita adalah makhluk dan Al-Qur’an adalah Kalamul1ah, maka ia pengikut sekte Jahmiyah. Allah pemah berdialog dengan Nabi Musa dan memberikan Taurat kepadanya dengan Tangan-Nya.

Allah Azza wa Jalla senantiasa befirman. Mimpi yang baik berasal dari Allah. Jika seseorang bermimpi yang baik dalam tidumya dan mimpi tersebut bukan hiasan tidumya kemudian dia menceritakannya kepada orang alim yang membenarkan mimpinya dan mentabirkannya berdasarkan prinsip yang benar dan tidak menyimpang, maka tabir mimpi yang baik dari orang adalah benar adanya. Dulu mimpi para nabi adalah wahyu. Maka adakah orang tolol melebihi orang yang tidak mengakui keabsahan mimpi ini dan mengatakannya tidak ada artinya sama sekali?

Pemah disampaikan kepadaku bahwa orang yang mengatakan mimpi tidak ada artinya berpendapat bahwa orang yang mengeluarkan sperma dalam mimpinya tidak terkena kewajiban mandi janabat. Padahal telah diriwayatkan dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

“Sesungguhnya mimpi seorang Mukmin adalah firman yang difirmankan Allah kepada hamba-Nya.”

Diriwayat lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Sesungguhnya mimpi itu berasal dari Allah. “

Hendaklah Anda menghargai kebaikan seluruh sahabat RasuJul1ah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan jangan mengungkit-ungkit kesalahan-kesalahan yang terjadi pada mereka. Barangsiapa yang mencaci, seluruh sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam atau mencaci salah seorang sahabat atau merendahkan martabatnya atau memaparkan aib mereka atau menghina salah seorang dari mereka, maka ia tukang bid’ah, pengikut sekte Rafidhah, orang kotor dan penyempal. Allah tidak menerima amal perbuatannya.

Sesungguhnya mencintai seluruh sahabat adalah Sunnah. Mendoakan mereka adalah ibadah. Mencontoh mereka adalah jaminan. Mengambil ilmu mereka adalah keutamaan. Manusia terbaik setelah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah Abu Bakar kemudian Umar kemudian Utsman kemudian Ali. Keempat sahabat tersebut khulafa’ rasidun yang diberi petunjuk. Manusia terbaik setelah keempat sahabat tersebut adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang lain. Tidak boleh mengungkit-ungkit sedikit pun kesalahan mereka atau mencaci salah seorang dari mereka. Barangsiapa melakukannya, maka penguasa setempat berhak mendidiknya dan menghukumnya. Penguasa tersebut tidak boleh memaafkannya. la harus menghukumnya dan menyuruhnya bertaubat. Jika bertaubat, maka taubatnya diterima. Kalau tidak, maka dihukum lagi dan dipenjara seumur hidup hingga mati di penjara atau kembali ke jalan yang benar.

Kita tidak menafikan orang-orang Arab, hak mereka, keutamaan mereka, senioritas mereka dan kecintaan mereka kepada hadits Rasulul1ah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sesungguhnya mencintai mereka adalah iman. Membenci mereka adalah kemunafikan. Kita tidak mencontoh orang-orang rendahan yang tidak mencintai orang-orang Arab dan tidak menghargai keutamaan mereka, karena ucapan mereka adalah bid’ah.

Barangsiapa mengharamkan kerja, bisnis dan mencari uang dari jalannya; maka sungguh ia orang bodoh, ngawur dan menyimpang. Sesungguhnya kerja di jalan yang benar adalah halal yang dihalalkan Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Tiap orang harus mencari rezki Allah untuk menghidupi diri dan keluarganya. Tidak kerja karena menganut pendapat di atas adalah kesalahan besar. Sesungguhnya agama tiada lain Kitabul1ah Azza wa Jalla, semua atsar, Sunan dan riwayat-riwayat shahih yang disampaikan mata rantai perawi-perawi yang tsiqah. Setiap perawi membenarkannya hingga riwayat-riwayat tersebut sampai pada Rasullulah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya Radhiyallahu Anhum, generasi tabi’in, tabi’-tabi’in dan generasi sesudahnya. Yaitu para imam yang dikenal keshalihannya, mengikuti mereka, konsekwen dengan Sunnah dan akrab dengan atsar-atsar yang ada. Mereka yang tidak dikenal sebagai tukang bid’ah, pendusta atau tuduhan-tuduhan lain.”

Itulah yang dikatakan sahabat Imam Ahmad hingga akhimya menutup tulisannya dengan mengatakan, “Inilah pendapat-pendapat yang menjadi ciri khas madzhab Ahlus-Sunnah wal Jama’ah wal Atsar, pecinta hadits dan ilmu yang pemah kami temui dan kami pemah menimba hadits dan Sunan dari mereka. Mereka semua adalah para imam yang tersohor, tsiqah, jujur, amanah dan panutan. Mereka bukan produser bid’ah, konflik dan kerancuan. Itulah pendapat imam-imam mereka dan ulama-ulama mereka sebelumnya. Kemudian mereka konsekwen dengannya, mempelajarinya dan mengajarkannya kepada orang lain.”

Saya (lbnu Qayyim) katakan bahwa sahabat Imam Ahmad yang dimaksud adalah Harb yang tiada lain juga sahabat Ishaq. Dia pemah belajar banyak hal dari Imam Ahmad dan Ishaq. Dia juga belajar pada Sa’id bin Manshur dan Abdullah bin Zubair Al-Hamidi. Prinsip-prinsip di atas ditransfer dari mereka dan mereka pun menyetujuinya. Barangsiapa mempelajari apa yang dikatakan mereka dan imam-imam Ahlus-Sunnah wal Hadits, maka pasti ia mendapatkan apa yang mereka katakan sejalan dengan apa yang dikatakan Harb di atas. Jika pendapat mereka dibukukan, maka menjadi buku yang lebih besar dari buku ini. Sebagian pendapat mereka saya cuplik dalam pembahasan ketinggian Allah Ta’ala di atas makhluk-Nya dan semayamnya Allah di atas Arasy-Nya. Inilah madzhab orang-orang yang berhak atas berita gembira. Kelompok inilah yang berhak mendapatkan berita gembira ini. Wabillahit-taufik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: