TAFSIR AL – FATIHAH

BAB I
PENDAHULUAN

Ilmu Tafsir adalah suatu bidang ilmu yang sangat penting dalam perbendaharaan ilmu-ilmu Islam. Karena kajian serta upaya memahami dan memahamkan al-Qur’an, belajar dan mengajarkannya pada orang lain termasuk tujuan amat luhur dan sasaran yang sangat mulia. Dan ilmu tentang al-Qur’an yang paling Sempurna adalah ilmu tafsir .
A. Latar Belakang Penulisan Makalah
Adapun penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas yang telah diberikan oleh Dosen Pembimbing Ustadz Mulkan Darajat Sena Silaen, S.Pd.I.
B. Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mencoba memahami dan memperdalam pengetahuan kami selaku pemakalah khususnya, dan para pembaca makalah umumnya dalam bidang ilmu tafsir yang sangat jarang sekali pada saat ini kita dapatkan pakar ataupun ahlinya.

BAB II
TAFSIR SURAT AL-FATIHAH
1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
4. Yang menguasai di hari Pembalasan.
5. Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.
86. Tunjukilah Kami jalan yang lurus,
7. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
A. Pengertian Al-Fatihah
Surat ini disebut al-Fatihah yang artinya adalah pembuka kitab secara tertulis. Dengan surat inilah dibukanya bacaan dalam shalat. Shalat ini disebut juga Ummul Kitab (induk al-Qur’an) berdasarkan pendapat jumhur.
Surah ini juga mempunyai banyak nama lain, antara lain Ummul-Kitab, Asy-Syifa’, Al-Waqiyah, Al-Kafiyah, Asas Al-Quran, dan sebagainya.
Surat al-Fatihah ini melengkapi unsur-unsur pokok Syariat Islam, kemudian dijelaskan perinciannya oleh ayat-ayat al-Qur’an yang 113 surat berikutnya.

B. Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat per Ayat

1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Para sahabat memulai membaca Al-Quran dengan ucapan ini. Membaca bismillahir-rahmanir-rahim dianjurkan di awal setiap pembicaraan dan pekerjaan. Ini berdasarkan sabda Nabi SAW, “Setiap perkara yang tidak dimulai dengan membaca bismillahir-rahmanir-rahim, ia menjadi terputus,” Arti “terputus”, sedikit keberkahannya.
Membaca basmalah juga disunahkan ketika berwudhu , berdasarkan sabda Nabi SAW, “Tidak sempurna wudu seseorang yang tidak menyebut nama Allah.” Menurut mazhab Syafi’I, disunahkan membaca basmalah ketika menyembelih, sedangkan menurut mazhab yang lain hukumnya wajib. Disunahkan juga membaca basmalah ketika hendak bersetubuh, berdasarkan sabda Nabi SAW, “Seandainya salah seorang di antara kalian ketika hendak bersetubuh mengucapkan, “bismillah, Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau berikan kepada kami (yakni anak yang akan Allah berikan)’, seandainya ia ditakdirkan mempunyai anak dari hubungannya disaat itu – anak itu tak akan dicelakakan oleh setan selamanya.
Membaca basmalah disunnahkan pada saat mengawali setiap pekerjaan. Disunnahkan juga pada saat hendak masuk ke kamar kecil (toilet).
Menurut Ibn Jarir, Sifat ar-rahman atau pengasih Allah adalah untuk semua mahluk, dan ar-rahim-Nya untuk orang-orang mukmin. Lafaz ar-rahman juga nama Allah yang khusus yang tidak boleh digunakan oleh selain Dia (Artinya, jika hanya memakai Ar-Rahman atau Rahman saja. Jika seseorang mempunyai nama Abdurrahman tentu sangat bagus, karena artinya “hamba Allah yang bersifat rahman”).

2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Alhamdu (segala puji). memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berrati: menyanjung-Nya karena perbuatannya yang baik. lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.

3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Al-Qurthubi mengatakan, Allah menyifati diri-Nya dengan Ar-rahmanir-rahim setelah firman-Nya rabbil-alamin adalah untuk mengiringkan tarhib (pernyataan yang mengandung ancaman, meskipun implisit) dengan targhib (pernyataan yang mengandung kabar gembira) . Sebagaimana firman Allah :
49. Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Sesungguhnya Aku-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, 50. dan bahwa Sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.
Didalam kata rabb yang telah kita ketahui maknanya di atas terkandung pengertian ancaman, karena pemilik sesuatu berhak melakukan suatu tindakan terhadap miliknya, sedangkan ucapan ar-rahmanir-rahim mengandung kabar gembira.

4. Yang menguasai di hari Pembalasan.
Maalik adalah zat yang memiliki kekuasaan atau penguasa. Penguasa itu berhak untuk memerintah dan melarang orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya. Dia juga yang berhak untuk mengganjar pahala dan menjatuhkan hukuman kepada mereka. Dialah yang berkuasa untuk mengatur segala sesuatu yang berada di bawah kekuasaannya menurut kehendaknya sendiri. Bagian awal ayat ini boleh dibaca Maalik (dengan memanjangkan mim) atau Malik (dengan memendekkan mim). Maalik maknanya penguasa atau pemilik. Sedangkan Malik maknanya raja.
Yaumid diin adalah hari kiamat. Disebut sebagai hari pembalasan karena pada saat itu seluruh umat manusia akan menerima balasan amal baik maupun buruk yang mereka kerjakan sewaktu di dunia. Pada hari itulah tampak dengan sangat jelas bagi manusia kemahakuasaan Allah terhadap seluruh makhluk-Nya. Pada saat itu akan tampak sekali kesempurnaan dari sifat adil dan hikmah yang dimiliki Allah. Pada saat itu seluruh raja dan penguasa yang dahulunya berkuasa di alam dunia sudah turun dari jabatannya. Hanya tinggal Allah sajalah yang berkuasa. Pada saat itu semuanya setara, baik rakyat maupun rajanya, budak maupun orang merdeka. Mereka semua tunduk di bawah kemuliaan dan kebesaran-Nya. Mereka semua menantikan pembalasan yang akan diberikan oleh-Nya. Mereka sangat mengharapkan pahala kebaikan dari-Nya. Dan mereka sungguh sangat khawatir terhadap siksa dan hukuman yang akan dijatuhkan oleh-Nya. Oleh karena itu di dalam ayat ini hari pembalasan itu disebutkan secara khusus. Allah adalah penguasa hari pembalasan. Meskipun sebenarnya Allah jugalah penguasa atas seluruh hari yang ada. Allah tidak hanya berkuasa atas hari kiamat atau hari pembalasan saja.
Sebagian ahli qiraah membaca maaliki dengan maliki (ma-nya tidak dipanjangkan). Kedua bacaan itu (baik ma-nya dibaca panjang maupun pendek) adalah bacaan yang sahih dan mutawatir (diriwayatkan secara sahih dari berbagai jalur yang sangat banyak). Disebutkannya Allah sebagai yang menguasai di hari kemudian, karena pada saat itu tak seorang pun yang mengakui memiliki sesuatu dan tidak ada yang berbicara kecuali dengan izin-Nya.
Di dalam sebuah ayat dikatakan, “Mereka tidak berkata-kata, kecuali yang telah diizinkan oleh Tuhan, Yang Maha Pemurah, dan ia mengucapkan kata yang benar.” Raja yang sebenarnya adalah Allah, sedangkan penamaan segala sesuatu selain Dia dengan kata “raja” adalah kiasan saja. Sedangkan kata diin pada ayat ini berarti pembalasan dan perhitungan, karena pada hari ini semua mahluk diperhitungkan dan diberi balasan atas perbuatannya.

5. Hanya Engkaulah yang Kami sembah[, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.
Menurut syara’, ibadah adalah yang menghimpunkan cinta, ketundukan, dan rasa takut yang sempurna. Arti ayat ini, “Kami tidak menyembah kecuali kepada-Mu, dan Kami tidak berserah diri kecuali kepada-Mu juga.” Inilah taat yang sempurna. Agama secara keseluruhannya terpulang kepada dua hal ini. Yang pertama membebaskan diri dari perbuatan syirik, sedangkan yang kedua membebaskan diri dari pengakuan memiliki upaya dan kekuatan, serta menyerahkannya kepada Allah SWT.
Kalimat iyyaka na’budu didahulukan daripada iyyaka nasta’in karena beribadah kepada Allah itulah yang merupakan tujuan, sedangkan meminta pertolongan adalah perantara untuk menuju ke sana. Karena, pada dasarnya segala yang terpenting didahulukan, kemudian setelah itu baru yang penting, dan seterusnya.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahulah berkata, “Didahulukannya ibadah sebelum isti’anah ini termasuk metode penyebutan sesuatu yang lebih umum sebelum sesuatu yang lebih khusus. Dan juga dalam rangka lebih mengutamakan hak Allah ta’ala di atas hak hamba-Nya….”
Beliau pun berkata, “Mewujudkan ibadah dan isti’anah kepada Allah dengan benar itu merupakan sarana yang akan mengantarkan menuju kebahagiaan yang abadi. Dia adalah sarana menuju keselamatan dari segala bentuk kejelekan. Sehingga tidak ada jalan menuju keselamatan kecuali dengan perantara kedua hal ini. Dan ibadah hanya dianggap benar apabila bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditujukan hanya untuk mengharapkan wajah Allah (ikhlas). Dengan dua perkara inilah sesuatu bisa dinamakan ibadah. Sedangkan penyebutan kata isti’anah setelah kata ibadah padahal isti’anah itu juga bagian dari ibadah maka sebabnya adalah karena hamba begitu membutuhkan pertolongan dari Allah ta’ala di dalam melaksanakan seluruh ibadahnya. Seandainya dia tidak mendapatkan pertolongan dari Allah maka keinginannya untuk melakukan perkara-perkara yang diperintahkan dan menjauhi hal-hal yang dilarang itu tentu tidak akan bisa tercapai.”

6. Tunjukilah Kami jalan yang lurus,
Setelah memuji Zat yang akan diminta, tepatlah jika kemudian diikuti dengan mengajukan permintaan. Ini adalah kondisi peminta yang sempurna, yakni ia memuji siapa yang akan diminta, setelah itu baru meminta kebutuhannya. Cara demikian tentu akan lebih membawa keberhasilan. Karena itulah, Allah menunjukkan hal tersebut.
Yang dimaksud hidayah di sini adalah bimbingan dan taufik. Para mufasir dari kalangan salaf (ulama terdahulu) maupun khalaf (ulama kini) berbeda pendapat tentang penafsiran ash-shirathal-mustaqim sekalipun semuanya terpulang kepada satu poin yang sama, yaitu mengikuti Allah dan Rasul-Nya. Ada riwayat yang menyebutkan, ash-shirathal-mustaqiim artinya Kitabullah. Ada pula riwayat yang menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah agama islam.
Ibn Abbas mengatakan, yang dimaksud adalah agama Allah yang tidak ada kebengkokan di dalamnya. Sedangkan Ibn Al-Hanafiyah menyebutkan, yang dimaksud adalah agama Allah di mana agama lainnya yang dipeluk oleh seorang hamba tidak akan diterima. Mujahid memberikan keterangan yang lain lagi. Ia mengatakan, ash-shiraahal-Mustaqiim adalah kebenaran. Pengertian ini mempunyai cakupan yang lebih luas dan tidak bertentangan dengan pendapat-pendapat yang disebutkan tadi.
Jika ada yang bertanya, mengapa seorang mukmin meminta hidayah di setiap waktu salat padalah hal itu telah ia miliki, jawabannya sebagai berikut:
Seorang hamba setiap saat dan di setiap keadaan butuh agar Allah menetapkan dan menguatkan hidayah yang telah dimilikinya. Maka Allah memberikan petunjuk kepada hamba-Nya agar ia meminta kepada-Nya di setiap waktu agar memberikannya pertolongan, ketetapan (kemantapan), dan taufik.
Abu Bakar pernah membaca ayat ini dalam rakaat ketiga pada shalat Maghrib secara sirri (tidak keras), setelah selesai membaca al-Fatihah

7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Kalimat shiraathal-ladziina an’amta ‘alaihim menjelaskan ash-shiraathal-mustaqiim. Mereka yang telah diberi nikmat adalah yang disebutkan dalam surah An-nisa’, yang artinya, “Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
Ibn Abbas menjelaskan, mereka adalah para malaikat, para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Rabi’ bin Anas mengatakan, mereka adalah para nabi, sedangkan Ibn Juraij dan Mujahid berpendapat, mereka adalah orang-orang mukmin. Penafsiran Ibn Abbas tampak lebih umum dan lebih luas cakupannya..
Pengertian orang-orang yang dimurkai adalah orang –orang yang mengetahui kebenaran tetapi berpaling darinya, sedangkan orang-orang yang sesat adalah yang tidak memiliki pengetahuan sehingga mereka berada dalam kesesatan, tidak mendapatkan petunjuk menuju kebenaran. Pengingkaran pertama (bukan jalan orang-orang yang dimurkai) diikuti dengan pengingkaran kedua (dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat) menunjukan, ada dua jalan yang rusak, yaitu jalan orang-orang Yahudi dan jalan orang-orang Nasrani.
Selain untuk menguatkan pengingkaran, juga untuk membedakan dua jalan yang rusak itu agar kedua-duanya dihindari, karena jalan orang-orang yang beriman mencakup dua hal sekaligus: mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Orang-orang Yahudi mengetahui tapi tidak mengamalkannya, sedangkan orang-orang Nasrani tidak memiliki pengetahuan tentang itu tapi mengamalkannya. Karena itu, orang Yahudi dimurkai dan orang Nasrani berada dalam kesesatan. Hadis-hadis banyak yang menjelaskan hal itu. Di antaranya yang diriwayatkan dari ‘Adiy bin Hatim, ia mengatakan, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang firman Allah ghairil-maghdhuubi ‘alaihim, beliau menjawab, ‘Mereka orang-orang Yahudi,’ sedangkan waladh-dhaalliin, kata beliau, ‘Mereka orang-orang Nasrani,”
Bagi orang yang membaca surah Al-Fatihah, disunahkan sesudahnya mengucapkan amiin, yang artinya, “Kabulkanlah permintaan kami, Ya Allah,” Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia mengatakan, “Rasulullah SAW, apabila membaca ghairil-maghdhubi ‘alaihim, sesudahnya mengucapkan amiin, sehingga dapat didengar oleh orang yang berada di saf pertama di belakang beliau.”
Orang yang dimurkai adalah orang yang sudah mengetahui kebenaran akan tetapi tidak mau mengamalkannya. Contohnya adalah kaum Yahudi dan semacamnya. Sedangkan orang yang tersesat adalah orang yang tidak mengamalkan kebenaran gara-gara kebodohan dan kesesatan mereka. Contohnya adalah orang-orang Nasrani dan semacamnya. Sehingga di dalam ayat ini tersimpan motivasi dan dorongan kepada kita supaya menempuh jalan kaum yang shalih. Ayat ini juga memperingatkan kepada kita untuk menjauhi jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang sesat dan menyimpang
C. Asbabun Nuzul
Mengenai asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya) surat al-Fatihah, sebagaimana diriwatkan oleh Ali bin Abi Tholib (mantu Rosulullah Muhammad saw: “Surat al-Fatihah turun di Mekah dari perbendaharaan di bawah ‘arsy’”
Riwayat lain menyatakan, Amr bin Shalih bertutur kepada kami: “Ayahku bertutur kepadaku, dari al-Kalbi, dari Abu Salih, dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Nabi berdiri di Mekah, lalu beliau membaca, Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Kemudian orang-orang Quraisy mengatakan, “Semoga Allah menghancurkan mulutmu (atau kalimat senada).”
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rosulullah saw. bersabda saat Ubai bin Ka’ab membacakan Ummul Quran pada beliau, “Demi zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, Allah tidak menurunkan semisal surat ini di dalam Taurat, Injil, Zabur dan al-Quran. Sesungguhnya surat ini adalah as-sab’ul matsani (tujuh kalimat pujian) dan al-Quran al-’Azhim yang diberikan kepadaku.”
D. Keutamaan Al-Fatihah
Pertama, al-Fatihah adalah surat yang paling utama. Dari Anas bin Malik ra. berkata: Tatkala Nabi saw dalam sebuah perjalanan lalu turun dari kendaraannya, turun pula seorang lelaki di samping beliau. Lalu Nabi menoleh ke arah lelaki tersebut kemudian berkata: “Maukah kamu aku beritahukan surat yang paling utama di dalam al-Quran? Anas berkata: Kemudian Nabi saw membacakan ayat ’segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.’
Kedua, al-Fatihah dapat digunakan untuk meruqyah. Dari Abi Sa’id al-Khudry dan Abu Hurairah ra (keduanya) berkata: “Rosulullah saw bersabda, surat pembuka al-Kitab dapat menyembuhkan dan menawarkan racun.”
Ketiga, mengucapkan amin akan menghapus dosa-dosa. Dari Abu Hurairah ra., Sesungguhnya Nabi saw bersabda: “Jika imam mengucapkan ‘ghoiril magdhubi ‘alaihim waladh dhallin’, maka sambutlah dengan ucapan ‘amin’, karena para malaikatpun mengucapkan ‘amin’ dan sesungguhnya imampun mengucapkan ‘amin’ pula. Maka barang siapa yang ucapan ‘amin’-nya sesuai dengan ucapan malaikat, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.
Keempat, tanpa al-Fatihah salat akan tidak sempurna. Dari A’isyah ra. berkata: Aku mendengar Rosulullah saw. bersabda: “Setiap salat yang tidak membaca surat al-Fatihah maka salatnya tergolong khaddaj (tidak sempurna).”
Kelima, al-Fatihah adalah induk al-Quran. Dari Abu Hurairah ra., Rosulullah bersabda: Induk al-Quran adalah tujuh ayat yang berulang dan al-Quran yang agung.”

BAB III
KESIMPULAN

Surat yang demikian ringkas ini sesungguhnya telah merangkum berbagai pelajaran yang tidak terangkum secara terpadu di dalam surat-surat yang lain di dalam Al Quran. Surat ini mengandung intisari ketiga macam tauhid. Di dalam penggalan ayat Rabbil ‘alamiin terkandung makna tauhid rububiyah. Tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatanNya seperti mencipta, memberi rezeki dan lain sebagainya. Di dalam kata Allah dan Iyyaaka na’budu terkandung makna tauhid uluhiyah. Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dalam bentuk beribadah hanya kepada-Nya. Demikian juga di dalam penggalan ayat Alhamdu terkandung makna tauhid asma’ wa sifat. Tauhid asma’ wa sifat adalah mengesakan Allah dalam hal nama-nama dan sifat-sifatNya. Allah telah menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi diri-Nya sendiri. Demikian pula Rasul shallallahu’alaihi wa sallam. Maka kewajiban kita adalah mengikuti Allah dan Rasul-Nya dalam menetapkan sifat-sifat kesempurnaan itu benar-benar dimiliki oleh Allah. Kita mengimani ayat ataupun hadits yang berbicara tentang nama dan sifat Allah sebagaimana adanya, tanpa menolak maknanya ataupun menyerupakannya dengan sifat makhluk.
Selain itu surat ini juga mencakup intisari masalah kenabian yaitu tersirat dari ayat Ihdinash shirathal mustaqiim. Sebab jalan yang lurus tidak akan bisa ditempuh oleh hamba apabila tidak ada bimbingan wahyu yang dibawa oleh Rasul. Surat ini juga menetapkan bahwasanya amal-amal hamba itu pasti ada balasannya. Hal ini tampak dari ayat Maaliki yaumid diin. Karena pada hari kiamat nanti amal hamba akan dibalas. Dari ayat ini juga bisa ditarik kesimpulan bahwa balasan yang diberikan itu berdasarkan prinsip keadilan, karena makna kata diin adalah balasan dengan adil. Bahkan di balik untaian ayat ini terkandung penetapan takdir. Hamba berbuat di bawah naungan takdir, bukan terjadi secara merdeka di luar takdir Allah ta’ala sebagaimana yang diyakini oleh kaum Qadariyah (penentang takdir). Dan menetapkan bahwasanya hamba memang benar-benar pelaku atas perbuatan-perbuatanNya. Hamba tidaklah dipaksa sebagaimana keyakinan kaum Jabriyah. Bahkan di dalam ayat Ihdinash shirathal mustaqiim itu terdapat intisari bantahan kepada seluruh ahli bid’ah dan penganut ajaran sesat. Karena pada hakikatnya semua pelaku kebid’ahan maupun penganut ajaran sesat itu pasti menyimpang dari jalan yang lurus; yaitu memahami kebenaran dan mengamalkannya. Surat ini juga mengandung makna keharusan untuk mengikhlaskan ketaatan dalam beragama demi Allah ta’ala semata. Ibadah maupun isti’anah, semuanya harus lillaahi ta’aala. Kandungan ini tersimpan di dalam ayat Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin.
Allah ta’ala berfirman : ‘Aku membagi shalat (Al Fatihah) antara Aku dengan hamba-Ku menjadi dua bagian. Dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang dia minta.’ Kalau hamba itu membaca, ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin’, maka Allah ta’ala menjawab, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku’. Kalau dia membaca, ‘Ar Rahmanirrahim’ maka Allah ta’ala menjawab, ‘Hamba-Ku menyanjung-Ku’. Kalau ia membaca, ‘Maliki yaumid din’ maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku mengagungkan Aku’. Kemudian Allah mengatakan, ‘Hamba-Ku telah pasrah kepada-Ku’. Kalau ia membaca, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’ maka Allah menjawab, ‘Inilah bagian untuk-Ku dan bagian untuk hamba-Ku. Dan hamba-Ku pasti akan mendapatkan permintaannya.’. dan kalau dia membaca, ‘Ihdinash shirathal mustaqim, shirathalladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhaalliin” maka Allah berfirman, ‘Inilah hak hamba-Ku dan dia akan mendapatkan apa yang dimintanya.’.”
Makna dari firman Allah di dalam hadits qudsi ini, “Kalau ia membaca, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’ maka Allah menjawab, ‘Inilah bagian untuk-Ku dan bagian untuk hamba-Ku. Dan hamba-Ku pasti akan mendapatkan permintaannya.” ialah : kalimat yang pertama yaitu ‘Iyyaka na’budu’ mencakup ibadah, dan itu merupakan hak Allah. sedangkan kalimat yang kedua (yaitu wa iyyaka nasta’in, pen) mengandung permintaan hamba untuk memperoleh pertolongan dari Allah dan menunjukkan bahwa Allah berkenan memberikan kemuliaan baginya dengan mengabulkan permintaannya.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an Al-Kariim dan Terjemahan. Depag. 1974
Alu Syaikh, Abdullah Bin Muhammad: Tafsir Ibnu Katsir. Pustaka Imam Syafii. Jakarta.2008
Al-Mubarakfuri,Syafiyurrahaman: Shahih Tafsir Ibnu Katsir.Pustaka Ibnu Katsir.Jakarta.2007
As-Sa’di, Abdurrahman: Tafsir As-Sa’di. Pustaka Darul Haq. Jakarta.2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: