Mengobati Keterpurukan Bangsa

Entah berapa banyak kalimat telah terucap tentang gambaran pahit getirnya kehidupan rakyat Indonesia…entah pula berapa juta kata telah terangkai untuk mengungkapkan krisis yang tak kunjung berakhir ini. Kekacauan, kerusuhan, pemberontakan, anarkhisme… sudah biasa menjadi santapan berita di pagi hari. Kelaparan, bencana, krisis kepercayaan, perekonomian yang carut marut…adalah sekelumit tragedi yang selalu menghiasi bangsa ini hari demi hari. Ahh….sudahlah, tinggalkan basa-basi serta kalimat-kalimat semisal ini, dan berikanlah solusi !!

…Penguasa yang Zhalim !!
Dari Mana Datangnya ??
Tidak sedikit diantara kita berpendapat : “…yang pertama menjadi biang kehancuran adalah para petinggi, pembesar, dan elite negara. Ibarat nahkoda yang linglung, sebentar lagi ia akan menenggelamkan awaknya”.
Ungkapan tersebut memang ada benarnya di satu sisi, namun satu hal yang pasti bahwa; para petinggi dan elite negara yang bobrok tidak lahir kecuali dari kebobrokan rakyat. Sesungguhnya pemimpin yang zhalim adalah satu bentuk adzab Allah yang ditimpakan pada rakyat (kaum) yang zhalim. Ibnu Abbas pernah mengomentari sosok Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqofi, seorang penguasa diktator dan kejam pada zamannya : “Sesungguhnya Hajjaj adalah adzab Allah yang dikirimkan-Nya kepada kalian disebabkan dosa-dosa kalian”. Allah telah berfirman :

“Dan tidaklah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezhaliman”. [QS. al-Qhashash : 59]
Dan hanya dengan taubat yang ikhlash kita berlindung dari adzab-Nya. Inilah yang harus kita lakukan pertama kali, bertaubat kepada Allah atas dosa-dosa ummat ini. Dengan demikian keberuntungan dan kemaslahatan akan dapat diraih. Allah berfirman :

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”(QS. An-Nur : 31).
Rakyat di zaman ini menghayalkan seorang pemimpin layaknya Abu Bakar ash-Shiddiq, ironisnya “si rakyat” tidak bisa berperilaku sebagaimana perilaku rakyat di zaman khalifah Abu Bakar. Tengoklah siapa rakyat Abu Bakar ash-Shiddiq di kala itu, mereka adalah orang-orang yang dimuliakan Allah dengan surga-Nya, semisal Umar bin Khattab, ‘Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan sahabat-sahabat mulia lainnya. Lalu tengoklah bagaimana keadaan rakyat di zaman ini, di antara mereka adalah para pelaku kesyirikan dan bid’ah, para pezina, lintah darat, pemeras, pembunuh dan peminum kelas berat, sementara para ulama dan orang-orang yang dikatakan agamis sungguh sedikit jumlahnya (itupun jika orang-orang agamis tersebut tidak ikut-ikutan menjual ummatnya untuk kepentingan duniawi).
Maka wajar saja jika pemimpin yang terpilih adalah orang-orang yang buruk. Karena mayoritas para pemilih tidak jauh dari perangai yang buruk. “Bukankah demikian alur “demokrasi” menghendaki ??”

Dengan demikian reformasi (perubahan) haruslah dimulai dari rakyat :
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dimuka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan suatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’du : 11).
Namun sayangnya, tidak sedikit di antara kita salah dalam memahami makna “perubahan” dalam ayat tersebut. Gonta-ganti sistem dan kepemimpinan tidak akan mendatangkan perubahan yang berarti jika tidak disertai perubahan individu di tubuh rakyat. Lalu seperti apakah model “perubahan” yang harus dilakukan ditubuh rakyat itu ? Sebelum pertanyaan tersebut terjawab, satu hal yang harus mengakar pada diri setiap muslim; yakni “Keyakinan akan Janji dan Petunjuk Allah”. Karena hanya dengan keyakinan terhadap ayat-ayat Allah, akan diraih kepemimpinan di bawah petunjuk dan bimbingan Allah, sebagaima firman-Nya :

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”. [QS. as-Sajdah : 24]
Krisis keyakinan akan janji-janji Allah merupakan batu sandungan terbesar bagi bangsa ini. Bangsa ini mengarahkan segenap perhatian dan pandangan mata kepada janji-janji barat (kuffar), rayuan gombal orang-orang yang haus kekuasaan, akan tetapi terhadap janji Allah dalam banyak ayat-Nya mereka tidak menyisakan sekalipun hanya sebelah pandangan mata. Padahal hanya dengan mengikuti petunjuk Allah, suatu bangsa akan menggapai kemakmuran, keamanan dan kejayaannya.

Dan mereka (orang-orang yang tidak meyakini janji Allah) berkata: “Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami”. Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezki (bagimu) dari sisi Kami? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. [QS. al-Qhashash : 57]
Setelah krisis keyakinan ini terobati, maka barulah penjelasan berikut akan mendatangkan manfaat.
>> Setidaknya ada tiga bentuk perubahan yang harus dijalani untuk meraih kemakmuran, kewibawaan dan kejayaan ummat. Allah telah menggariskannya dalam al-Qur’an, demikian pula Rasulullah  telah melaksanakannya dalam tahap demi tahap perjuangan dakwahnya.

…Reformasi Aqidah dan Tauhid
Allah berfirman :

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur : 55).
Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa kejayaan di muka bumi beserta keamanannya akan diperoleh manakala peribadatan itu hanya menjadi milik Allah semata dan tidak selain-Nya. Ketika rakyat melaksanakan amal shalih dan ketaatan, Allah akan menjadikan mereka berkuasa serta meraih kekhalifahannya. Jaminan keamanan dan stabilitas kehidupan juga menjadi janji Allah dalam ayat tersebut.
Namun lihatlah gelagat anak-anak bangsa ini, mereka berlari kepada selain Allah, mengharap dan beribadah kepada selain Allah. Inilah yang harus direformasi terlebih dahulu. Karena nasib bangsa ini bagaimanapun spektakuler sistem yang berlaku, tetap di bawah kehendak dan ketentuan Allah.
Jika kita kembali membuka lembaran sejarah kenabian, sungguh inilah fase dakwah yang pertama kali diperjuangkan oleh Rasulullah , yaitu mereformasi (merubah) keyakinan yang menyimpang dari tauhid serta paganisme (penghambaan kepada selain Allah) yang membelenggu.
Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan) :”Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thagut (peribadatan kepada selain Allah -red) itu”, maka diantara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan adapula diantaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan (berupa kehancuran -red) orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”(QS. An-Nahl : 36).

…Reformasi Ibadah dan Prinsip Beragama
Syaikh Ali Hasan al-Halabi dalam bukunya “Tasfiyah dan Tarbiyah” hal. 164-185 berkata : “Allah tidak akan merampas nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum kecuali jika kaum itu sendiri yang merubah anugerah Allah yang telah diberikan kepada mereka berupa keimanan, hidayah dan kebaikan.
Allah berfirman:
“Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS.al-Anfal : 53).
Kemudian datanglah sesudah itu orang-orang yang mengganti (anugerah Allah); yaitu apa-apa yang pernah ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya (berupa ibadah dan prinsip beragama -red), dengan aqidah-aqidah serta madzhab-madzhab rendah, lengkap dengan segala kebiasaan, tradisi (bid’ah) dan akhlaknya. Mereka berpecah belah menjadi banyak golongan, berkelompok-kelompok dan menjunjung tinggi panji-panji jahiliyyah. Sehingga Allah-pun menghinakan mereka….”
Solusi dari itu semua adalah menyerukan kembali apa yang pernah diserukan oleh Rasulullah r dan para sahabatnya. Imam Malik pernah berkata : “Tidak akan baik keadaan suatu kaum kecuali dengan apa yang telah membuat baik keadaan para sahabat dahulu”. Dengan kata lain kita harus mereformasi setiap bentuk penyelewengan ibadah dan segera menyesuaikan prinsip beragama agar sejalan dengan apa yang dipegang oleh Rasulullah dan para sahabatnya.
Rasulullah r pernah bersabda : “sesungguhnya akan terjadi fitnah (kehidupan yang carut marut, kekufuran dan huru-hara). Maka para sahabat berkata : ‘lalu bagaimana dengan kami wahai Rasulullah ?, bagaimana yang harus kami lakukan ? Beliau bersabda : “kamu kembali kepada perkara (agama) kamu yang pertama (yakni metode beragama para sahabat yang murni, sebelum terjadinya fitnah)” [Ash-Shahihah no. 11, Imam al-Albani]

…Reformasi Akhlak dan Moral
Setelah membawakan firman Allah di atas (QS. Al-Anfal :53), Syaikh Ali Hasan al-Halabi berkata : “Pertama kali para salafush shalih pendahulu kita, (benar-benar) berpegang teguh pada nikmat-nikmat Allah yang dianugerahkan kepada mereka. Dan sebesar-besar nikmat Allah adalah aqidah yang benar dan akhlak yang mulia.” Selanjutnya beliau berkata : “Sehingga dengan demikian mereka berhak mendapat pertolongan dari Allah, diteguhkan-Nya kedudukan mereka di muka bumi dan akhirnya seluruh ummat serta bangsa-bangsa tunduk kepada mereka. [Tashfiyah dan Tarbiyah hal. 184-185].

Wallaahua’lam

Diterbitkan oleh Majelis Ta’lim
“ANSHORUSSUNNAH”

Alamat Redaksi:
Masjid ‘Aisyah ra.
Jl. Suromandi No. 1 Mataram

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: