ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT GILA….!!!

BAB I

PENDAHULUAN

 

Sesudah ARISTOTELES tidaklah timbul ahli filsafat yang dapat disamakan dengan dia. Ini tidak berarti, bahwa orang yang tidak berfisafat, tetapi filsafat mereka itu hanya berdasarkan yang sudah-sudah dan tidak mencari pertanggungjawaban terakhir bagi segala yang ada. Filsafat dipusatkan pada cara hidup, sehingga orang yang bijaksana ialah orang yang mengatur hidupnya menurut budinya. Cara mengatur hidup inilah yang menjadi dasar tiga aliran yang terkenal pada abad-abad sesudah ARISTOTELES. Sesuai dengan sejarah umun masa sesudah ARISTOTELES ini disebut zaman Hellenisme Romawi.

BAB II

ALIRAN EPIKURISME

 

  1. Asal Nama Epikurisme

Nama Epikurisme berasal dari tokoh aliran yaitu EPIKUROS (341-270). Filsafat EPIKUROS hanya diarahkan pada satu tujuan, yaitu: memberi kebahagiaan kepada manusia. Jadi yang diutamakan etika, adapun yang menjadi dasar etika ini logika dan fisikanya.

B. Logika dan fisika.

Ajarannya tentang logika dan fisikanya adalah sebagai berikut: Sumber pengetahuan – menurut EPIKUROS – ialah pengalaman: pengalaman berkali-kali dapat mengakibatkan pengertian. Pengertian ini dapat membawa orang pada pengetahuan tentang dasar sedalam-dalamnya dan tersembunyi. Adapun dasar sedalam-dalamnya bagi semua hal itu dinamainya atom. Atom ini terlalu kecil dan tak tercapai oleh indera. Karena geraknya maka terjadilah bermacam-macam benda di dunia ini sekali-kali tak ada hubunganny dengan dewa-dewa.

Jiwa manusia itupun benda juga, tetapi halus. itulah sebabnya maka manusia dapat mencapai pengertian, karena jiwa menerima sinar dari benda lainnya semacam dengan dia. Jiwa tak mungkin tanpa badan, daripada itu tak mungkin ada hidup sesudah badan itu tak ada

C. Etika

EPIKUROS hendak memberi kebahagiaan yang berupa ketenangan (ataraxia). Manusia hidupnya tidak tenang, karena terganggu oleh takut akan tiga hal, yaitu takut akan marah dewa, takut akan mati serta takut akan nasib.

Takut ini sama sekali tak perlu, tak usalah kita takut. (Jika kita tak takut akan tiga hal itu tentulah kita tenang!).

Maka utarakanlah apa sebabnya kita tak usah takut: Kita tak usah takut akan marah dewa. Segala sesuatunya didunia ini terjadi karena gerak atom, bukanlah karna dewa. Jika sekiranya dewa itu ada, maka mereka hidup didunianya sendiri dan berusaha untuk tenang serta berbahagia juga. Jika sekiranya mereka itu harus marah karena tingkah laku manusia. Alangkah celaka hidup dewa-dewa itu karna harus selalu maran-marah saja!

Terhadap matipun manusia tak usah takut. Jiwa kita itupun dapat dan akan mati, sebab tanpa badani, tak mungkin ada jiwa. Habis hidup ini tak ada lanjutan hidup manusia.

Jadi maut itu malahan melepaskan manusia dari sakit dan sengsara. Lagi pula selama kita masih hidup tak adalah maut,jika maut datang, tak adalah kita!

Kepada nasibpun kita tak usah takut. Segala kejadian di dunia itu ditentukan oleh gerak atom. Bagaimana usaha kita, kita tak dapat mengubahnya. Dengan demikian tak adalah alasan sedikitpun untuk takut.

Segala nafsu dan cenderung manusia itu terarahkan pada kebahagiaan. Itu tidak berarti bahwa segala nafsu diikuti saja, sebab nafsulah yang mengakibatkan kesengsaraan. Maka dari itu haruslah nafsu itu diatur. Mengatur nafsu itulah kebijaksanaan.

 

BAB III

ALIRAN S T O A

 

Yang menjadi tokoh stoa bernama Zeno (336-264). Ia memberikan ajarannya dalam gang antara tiang-tiang (stoa poikile), itulah sebabnya maka aliran ini disebut Stoa.

Bagi Stoapun pengetahuan berdasarkan pengalaman indera. Pengatahuan umum memang bersendikan pengetahuan ini, tetapi tidaklah terdapat yang umum itu. Yang sungguh-sungguh ada ialah yang tercapai oleh indera itu saja.

Menurut Stoa tak ada dunia lain daripada dunia pengalaman yang jasmani ini, hanya dunia itu sajalah yang sungguh-sungguh ada. Dalam pada itu ada dua unsure : yang pasif, yaitu bahan sebenarnya dan yang aktif, yaitu budi yang dapat meresap pada segala-segalanya. Tetapi budi itu jasmani, berbahan, semacam fluidum yang menjiwai segala badan dan bahan.

Tak adalah beda antara alam dan Tuhan, Tuhan ialah alam dan sebaliknya. Aturan yang ada di dunia ini timbul dari alam. Seluruh ala mini teratur merupakan harmoni (kedeimbangan, keselarasan) dan aturan inilah yang merupakan nasib. Kalau aturan ini dari alam atau Tuhan, dari manakah adanya jahat? Jawab stoa : jahat itu tak ada hanya semu saja!

Etika Stoa tentu saja berhubungan rapat dengan logika dan ajarannya tentang alam tersebut di atas. Manusia itu merupakan bagian dari alam. Dari itu haruslah ia merupakan harmoni dengan harmoni alam. Keharmonisan itu mungkin, jika manusia hidup selaras (dalam harmoni) dengan dirinya sendiri, yaitu dengan budinya. Kebajikan ialah budi yang lurus, laras dengan harmoni alam. Itulah sebabnya maka orang yang bijak sana harus mengatur nafsunya, untuk melaraskan hidupnya dengan harmoni alam dan dunia. Semua yang diberikan aturan alam (nasib) kepadanya, harus diterimanya dengan suka hati.

Dengan demikian dia akan hidup tenang dan bahagia. Orang yamg bijaksana melepaskan segala rasa, ia bebas dari segala nafsu. Hanya usaha mencari kebajikan itulah yang tertinggi. Adapun kebajikan tertinggi ini ialah kebijaksanaan.

 

BAB IV

ALIRAN S K E P S I S

 

Yang dianggap menjadi Bapak aliran skepsis ialah Pyrrho (365-275). Ia tidak meninggalkan warisan tertulis. Fisafatnya tentang tingkah laku manusia berdasarkan atas logika pula.

Orang banyak merasa tak berbahagia, karena ia mengira mempunyai pengetahuan yang pasti, dan ternyatalah bahwa ia keliru. Dan itu memang sebenarnya, karena menurut aliran ini manusia memang tidak mungkin mencapai kepastian. Pengetahuan kita tidak boleh dipercaya !

Supaya orang jangan tidak berbahagia, supaya ia sungguh-sungguh dapat bijaksana (mempunyai ketenangan hidup), maka haruslah ia tidak mengambil putusan. Orang yang tidak mengambil keputusan tidak pernah keliru. Dengan kata lain, haruslah ia selalu beragu-ragu (skepsis artinya : ragu-ragu)

Sikap ragu-ragu tentang hal seperti dianjurkan oleh skepsis ini sebenarnya tak mungkin. Karena jika orang ragu-ragu tentang segala hal, pun jika sekiranya mengira demikian, toh ia tak mungkin ragu-ragu akan keragu-raguannya itu. Ia ragu-ragu dengan pasti, ini artinya ada kepastian dengannya.

Dianjurkan oleh skepsis supaya orang jangan mengambil putusan supaya berbahagia. Tetapi untuk melakukan anjuran ini, haruslah ia mengambil putusan lebih dulu, maka sudahlah terbuat olehnya suatu putusan. Jadi kalau hendak bijaksana secara skepsis, haruslah mulai dengan bijaksana.

Anjuran skepsis memang mengandung pertentangan, maka dari itu dalam prinsipnya mustahillah.

Walaupun demikian benar-benar pengaruh skepsis dalam dunia sampai permulaan abad masehi, dari Yunani sampai ke Roma. Orang-orang meragukan akan segala hal, para cendikiawan bimbang akan segala hal, kepastian tidak ada. Epikurisme dan Stoa kurang pengaruhnya dan filsafat yang mengajukan adanya kepastian dan kebenaran tidak dihargai. Untuk pedoman hidup orang mencari hal lain.

BAB V

ZAMAN MISTIK

 

Ketika itu banyak aliran agama terutama dari sebelah timur. Kalau filsafat tidak memberi kepastian, agamalah yang barangkali memberi pedoman hidup. Maka minat orang terarah pada beberapa agama yang wktu itu dating dari daerah lain. Ada yang menyebut zaman ini zaman mistik.

Karena agama itu, lebih- lebih karena agama yahudi dan agama orang Kristen dalam filsafat orang mulai memikirkan Allah dan kodratnya serta hubungan dunia dengan tuhan. Walaupun lain, akan tetapi ajaran PLATO-lah yang menjadi contoh dalam aliran ini. Dari pada itu dalam filsafat ada aliran yang dinamai neoplatonisme atau platonisme baru. Besar benar pengaruhnya untuk Eropa kemudian, dari itu tidak kami hubungkan dengan aliran- aliran besar di atas melainkan merupakan bab baru.

 

KESIMPULAN

 

  • Filsafat dipusatkan pada cara hidup, sehingga orang yang bijaksana ialah orang yang mengatur hidupnya menurut budinya.
  • Filsafat EPIKUROS hanya diarahkan pada satu tujuan, yaitu: memberi kebahagiaan kepada manusia. Jadi yang diutamakan etika.
  • Menurut Epikuros Terhadap matipun manusia tak usah takut. Jiwa kita itupun dapat dan akan mati, sebab tanpa badani, tak mungkin ada jiwa. Habis hidup ini tak ada lanjutan hidup manusia.
  • Tokoh stoa bernama Zeno (336-264). Ia memberikan ajarannya dalam gang antara tiang-tiang (stoa poikile), itulah sebabnya maka aliran ini disebut Stoa.
  • Menurut Stoa tak ada dunia lain daripada dunia pengalaman yang jasmani ini, hanya dunia itu sajalah yang sungguh-sungguh ada. Dalam pada itu ada dua unsure : yang pasif, yaitu bahan sebenarnya dan yang aktif, yaitu budi yang dapat meresap pada segala-segalanya. Tetapi budi itu jasmani, berbahan, semacam fluidum yang menjiwai segala badan dan bahan.
  • Bapak aliran skepsis ialah Pyrrho (365-275). Ia tidak meninggalkan warisan tertulis. Fisafatnya tentang tingkah laku manusia berdasarkan atas logika pula.
  • Supaya orang jangan tidak berbahagia, supaya ia sungguh-sungguh dapat bijaksana (mempunyai ketenangan hidup), maka haruslah ia tidak mengambil putusan. Orang yang tidak mengambil keputusan tidak pernah keliru. Dengan kata lain, haruslah ia selalu beragu-ragu (skepsis artinya : ragu-ragu)
  • Dalam filsafat ada aliran yang dinamai neoplatonisme atau platonisme baru. Besar benar pengaruhnya untuk Eropa kemudian.

 

DAFTAR REFERENSI

 

http://www.isi-ska.ac.id/elearning/tari/powerpoint/pert_6.ppt

http://ardiansyahblog.blogspot.com/

http://hfirmana.wordpress.com/

Bertens, K. 1975. Sejarah Filsafat Yunani: Dari Thales ke Aristoteles.   Yogyakarta: Kanisius

Rapar, Jan Hendrik. 1996. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: