PERKEMBANGAN AWAL PEMIKIRAN YUNANI PADA MASA SOCRATES

BAB I PENDAHULUAN

 

Kebudayaan Yunani purba berkembang pesat sebelum kontak dengan kebudayaan asing yang berasal dari Mesir, India dan lain-lainnya. Pada suatu titik masa, hal ini telah memicu perkembangan filsafat dan agama.

Budaya bangsa Yunani merupakan salah satu dari kebudayaan awal yang berjalan bersamaan dengan kebudayaan bangsa Mesir, Persia dan India, dimana manusia sudah mulai berfikir tentang kehidupan, perilaku, keyakinan, kehidupan setelah kematian dan tentang alam semesta dimana mereka eksis bersama dengan para pengisi alam lainnya.

Dalam periode beberapa abad sebelum Nabi Isa.a.s. bangsa Yunani sudah mencapai kemajuan luar biasa di bidang matematika, filsafat, kesenian, astronomi, kedokteran, musik dan politik. Hasil kinerja mereka diakui sampai sekarang ini, hanya saja semuanya kemungkinan telah sirna dari muka bumi jika tidak karena pertolongan budaya Islamiah yang telah memelihara dan menterjemahkan hasil karya mereka dan membawanya ke ufuk cakrawala baru.

 

BAB II PERKEMBANGAN AWAL PEMIKIRAN YUNANI PADA MASA SOCRATES

 

Kebudayaan Yunani bermula sejak 7000 s.M. dengan mulai munculnya komunitas petani di kawasan tersebut. Sampai dengan sekitar 2000 s.M. kebudayaan Minos di pulau Kreta (sebuah pulau besar dekat Yunani) menjadi kekuatan dominan di kawanan ini. Setelah meletusnya gunung Thera sekitar 1500 s.M. bangsa Minos kehilangan kekuasaan dan bangsa Yunani mulai bangkit kekuatannya.

Dalam periode 1000 s.M. sampai dengan masa Nabi Isaa.s., bangsa Yunani mulai mengembangkan konsep filosofi yang berkaitan dengan sains, politik dan kesenian. Mungkin ada yang ingin bertanya apakah perkembangan itu bersifat acak dalam suatu kebudayaan yang sudah maju, ataukah kemajuan itu berjalan dalam kerangka konteks keagamaan, atau juga bahkan berkat bimbingan rahmat Wahyu Ilahi.

A. Maraknya Filosofi Yunani

Adalah dalam periode ini muncul beberapa aliran pemikiran awal. Pada dasarnya kebudayaan Yunani didasarkan pada paganisme yaitu mereka menyembah tidak terbilang dewa dan dewi, dimana hal ini nantinya berpengaruh juga pada agama Kristen beberapa abad kemudian.

Dewa-dewa utama bangsa Yunani terdiri dari antara lain:

• Zeus – dewa langit
• Athena – dewi perawan
• Apollo – dewa yang cemerlang
• Artemis – dewi perburuan
• Poseidon – dewa lautan
• Hades – dewa bawah tanah

Masih banyak lagi lainnya namun daftar di atas cukup memberikan gambaran tentang agama kuno bangsa Yunani. Di sekitar diri dewa- dewi tersebut terdapat jaringan dongeng mithologi yang berputar di sekitar sosok mereka masing-masing. Adalah dari pandangan tentang agama dan sembahan yang rancu demikian itulah para ahli filsafat Yunani berusaha menyusun kerangka fikiran yang harmonis dan teratur.

Pythagoras (580 – 500 s.M) dari Samos mulai mencoba menggali spiritualitas secara lebih mendalam. Ia lahir di abad ke 6 s.M., katanya dari seorang perawan dan didedikasikan kepada Apollo dengan tujuan agar ia mengkhidmati umat manusia. Ia banyak berkelana dan memperoleh pendidikan dalam bidang yang berkaitan dengan Orpheus, Ibrani, Mesir, Chaldea, Hindu dan Zoroaster. Menurut beberapa sumber, Pythagoras kemudian dikatakan sebagai ‘putra tuhan’ dan menjadi orang Yunani pertama yang menyebut dirinya seorang filosof (seseorang yang mencari tahu).

Pythagoras sudah menyadari keberadaan ruh atau jiwa dan menganggap ruh terperangkap dalam tubuh jasmani sebagai hukuman karena suatu dosa. Ruh tersebut terkutuk harus menjalani berbagai bentuk inkarnasi, baik sebagai manusia atau pun hewan. Pandangan itu menunjukkan adanya pengaruh keyakinan agama Hindu bangsa India, antara lain juga terlihat dari demikian banyaknya sesembahan dewa dan dewi bangsa Yunani yang memiliki kemiripan dengan kumpulan sebagaimana yang terdapat dalam kitab Veda dan tentang inkarnasi jiwa.
Ia berpendapat bahwa semua ilmu pengetahuan bersumber pada matematika khususnya keterkaitan musik, astronomi dan fenomena spiritual dengan bilangan-bilangan. Ia meninggal pada usia 60 tahun tetapi tatanan pengikutnya bertahan sampai 250 tahun.

Sosok kontemporer dari Pythagoras adalah Xenophanes (563 – 483 s.M) dari Colophon yang diberitakan pernah menyatakan bahwa:

‘Ada Tuhan yang satu, jauh lebih akbar dari segala dewa dan manusia, tidak memiliki bentuk atau fikiran seperti manusia yang fana. Dia itu maha melihat, maha berfikir, maha mendengar. Hanya saja manusia membayangkan dewa-dewa dilahirkan dan berpakaian serta memiliki suara dan tubuh seperti diri mereka sendiri.’

Ucapan Xenophanes itu sebagai sanggahan atas pendekatan bangsa Yunani tentang sesembahan mereka yang dirasanya kurang sofistikasi. Ia beranggapan bahwa semua mahluk bisa melihat Tuhan menurut citra mereka sendiri dan dengan cara itu manusia telah mencipta suatu mithologi yang kompleks dengan memfitratkan bentuk manusia dan kelemahan-kelemahannya kepada wujud Tuhan sebagaimana katanya:

‘Jika sapi, kuda atau pun singa memiliki tangan, atau mampu menggambar dengan kakinya serta menghasilkan imaji sebagaimana yang dilakukan manusia maka kuda akan menggambar dewa berbentuk kuda, sapi seperti sapi, dimana mereka akan menggambar bentuk tubuh dewanya sama dengan bentuk tubuh mereka sendiri.’ (ucapannya sebagaimana dikutip oleh Diogenes Laertius).

Sebenarnya Xenophanes sedang berusaha menunjukkan bahwa Tuhan adalah sosok maha kuasa yang tidak terikat pada bentuk dan fitrat yang bisa kita lihat atau bayangkan. Apakah Xenophanes bisa jadi merupakan penganut monotheis pertama di Eropah?

Dari sini kita bisa melihat bahwa di Yunani pada masa itu pemikiran keagamaan sudah berkembang dan orang sudah membicarakannya dimana hal ini menjadi wahana subur untuk kemajuan ruhaniah. Mereka beranggapan bahwa semua anak muda harus mempelajari epik karangan Homer yaitu Iliad (kisah pengepungan Troya) dan Odyssei (perjalanan pulang pahlawan Ulysses setelah perang tersebut). Namun ironisnya tidak ada penjelasan tentang siapakah Homer tersebut, bahkan ada yang menganggapnya sebagai kumpulan riwayat atau tradisi saja. Bagi bangsa Yunani karya tersebut mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan aspek-aspek moral, praktikal, heroik dan puisi. Karena itulah semua angkatan muda Athena harus membaca Homer yang dianggap akan menjadi bekal bagi mereka dalam menghadapi segala kesulitan kehidupan nantinya.

B. Kehidupan Socrates

Socrates lahir di Athena pada tahun 469 s.M. Ia segera mengembangkan fikiran di bidang filsafat seperti halnya Pythagoras sebelumnya. Sayangnya ia tidak ada meninggalkan tulisan langsung yang berisi pandangannya tentang keyakinannya namun kita memiliki catatan kehidupannya sebagaimana direkam oleh Plato dan juga ahli sejarah bangsa Yunani yang bernama Xenophon dari Athena. Dari catatan mereka itulah kita bisa merangkai beberapa informasi tentang kehidupan, keyakinan dan karakter dirinya.

Di masa mudanya Socrates mendapat pendidikan normal di bidang sains, musik dan gimnastik. Semua ini merupakan subyek pelajaran yang berlaku umum dalam periode Yunani klasik. Ia dikenal juga sebagai pematung dan katanya beberapa karyanya pernah ditampilkan di salah satu tempat di jalan menuju ke Acropolis di Athena.

Tidak lama semua itu ditinggalkan ketika ia mulai menerima serangkaian mimpi, wahyu dan tanda-tanda yang menjurus kepada penugasannya sebagai utusan Ilahi bagi perbaikan bangsa Athena. Ia mencoba menunjukkan kepada mereka kesia-siaan keyakinan dan gaya hidup mereka dan mengajak mereka pada gaya hidup yang lebih intelektual dan bermoral. Sepanjang sisa kehidupannya ia dibimbing oleh ‘suara surgawi’ dan menggambarkan hubungannya dengan Tuhan secara demikian pribadi yang dikenali oleh orang-orang beragama yang hidup di zaman modern. Socrates meyakini ‘suara’ tersebut dan tidak pernah menentangnya karena beranggapan bahwa suara tersebut selalu menunjukkan kepadanya segala kebenaran dan kebaikan.

Socrates memiliki gaya mengajar yang unik yaitu dengan cara bertanya tentang suatu subyek dari berbagai sudut pendekatan, dan dari sana baru menarik kesimpulan. Gaya ini juga digunakan oleh Kong Hu Cu di antara bangsa Cina. Salah satu contoh menarik adalah percakapan Socrates dengan Laches, pensiunan jendral, mengenai makna atau pengertian keberanian:

Socrates: Aku ingin meminta pendapat anda tentang keberanian, tidak saja pada tingkatan infantri tetapi juga kavaleri dan pada semua bentuk pertempuran. Bukan hanya keberanian bertempur tetapi juga keberanian berlayar di laut, menghadapi penyakit dan kemiskinan serta masalah kemasyarakatan. Disamping itu juga keberanian menghadapi nafsu dan kenikmatan yang sama sulitnya dihadapi, baik dengan cara maju atau pun mundur, karena bukankah memang ada manusia yang dikatakan berani dalam segala bidang ini, wahai Laches?

Laches: Ya, benar.

Socrates: Jadi semua itu bisa dianggap sebagai keberanian, hanya saja ada manusia yang mengemukakannya dalam kenikmatan, ada yang dalam kepedihan, ada yang dengan nafsu, dan juga ada yang dalam mara bahaya. Begitu pula dengan adanya yang memperlihatkan kepengecutan dalam keadaan-keadaan yang sama.

Laches: Benar adanya.

Socrates: Sekarang, yang ingin aku ketahui ialah apa yang dimaksud dengan kedua sifat itu. Jadi tolong beritahukan kepadaku, apa yang menjadi ciri-ciri umum keberanian yang terdapat pada semuanya? Pahamkah anda apa yang aku maksud?

Dalam diskusi-diskusinya Socrates selalu mengajak orang untuk mencari pengertian yang lebih dalam serta mencari tahu mengapa mereka mengerjakannya dan apa yang mereka katakan. Ia selalu menggugah anak-anak muda untuk memikirkan tingkah laku dan ucapan mereka sendiri dan tidak sepenuh-nya mengandalkan pada pemahaman menurut Socrates saja.

Ia sebenarnya memiliki derajat dalam masyarakat meski ia menghindari politik karena dianggap akan mengganggu missi keruhaniannya. Dalam jabatan yang dipegangnya ia selalu bersikap berani dan terkadang berdiri sendiri mempertahankan apa yang dianggapnya sebagai tindakan yang benar. Contohnya antara lain saat ia menentang sendirian proposal terhadap para pemenang Arginusae pada tahun 406 s.M. Dua tahun kemudian ia menunjukkan pembangkangan terhadap Tirani Tigapuluh selama masa pemerintahan teror mereka.

Dakwah Socrates yang dilakukan secara ekstensif serta sikapnya yang berprinsip jadinya dianggap mengganggu oleh negara Yunani yang kemudian menangkapnya pada tahun 399 s.M. Yang menjadi pendakwanya adalah Meletus (seorang penyair), Anytus (politisi) dan Lycon (orator). Tuduhannya adalah:

‘Socrates telah bersalah karena tidak mengakui dewa-dewa kota, mengakui adanya sembahan lain dan mencoba memperkenalkan kekuasaan lain. Ia juga telah merusak generasi muda.’ (Freeman, h.267)

Menurut penuturan Plato, Socrates menolak memberikan argumentasi rhetorikal untuk membela dirinya dan menggunakan cara yang lebih santun. Menurut apologi Plato, ia mengawali pembelaan dirinya dengan kata-kata berikut:

‘Kalau begitu aku harus mengajukan pembelaan diri dan mencoba menjernihkan fitnah yang sudah berlangsung lama atas diriku. . . Dan dengan menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan, sesuai dengan kepatuhan kepada hukum, aku sekarang akan mengajukan pembelaan diriku.’ (Apology, 19a)

Sebenarnya ia mempunyai kesempatan untuk mendapatkan hukuman yang lebih ringan tetapi ia menolak dan lebih mempertahankan pendapatnya. Ia sepertinya mengabaikan kedatangan maut dan bahkan menyatakan bahwa ia akan pergi ke suatu tempat yang lebih baik. Ia kemudian divonis mati dan setelah beberapa hari di penjara, ia dipaksa meminum racun yang membawa kematiannya.

BAB III

KARAKTER SOCRATES

 

Plato dalam karyanya Symposium mencoba merekam pemikiran-pemikiran Alcibiades, seorang politisi kaya di Athena, dan reaksi yang bersangkutan saat mendengar dakwah Socrates sebagai berikut

‘Ketika aku mendengarkan dirinya, hatiku berdegup keras . . . sepertinya kalut . . . kesurupan . . . dan air mata meleleh mendengar apa yang dikatakannya. Aku bisa melihat bahwa orang-orang lain juga merasakan dampak yang sama. Aku pernah mendengar Pericles bicara. Aku pernah mendengar orator-orator yang baik lainnya tetapi mereka tidak ada yang menimbulkan efek seperti halnya ini. Mendengar mereka itu aku tidak merasa jiwaku kalut atau merasa bahwa aku ini hanyalah debu belaka.’ (Freeman, h.264)

Alcibiades disini sedang menceritakan interaksi dirinya dengan seseorang yang unik, bukan seorang politisi, bukan seorang egoist, tetapi seseorang yang memiliki keyakinan dan indra yang kuat tentang baik dan buruk, salah dan benar, dan ia mampu menggugah pendengarnya sebagaimana yang hanya bisa dilakukan oleh seorang nabi Tuhan. Bahkan Plato menyebut Socrates.a.s. sebagai ‘orang yang paling adil di zamannya.’

Seorang sahabat lain menguraikan tentang dirinya sebagai berikut:

‘Sedemikian saleh orangnya sehingga ia tidak akan melakukan sesuatu sebelum berkonsultasi dengan dewanya. Sedemikian bersifat adil dimana ia tidak pernah menyakiti siapa pun, malah ia menjadi penolong bagi para kawannya. Sedemikian sederhana sehingga ia tidak lebih menyukai kenikmatan dibanding kebenaran, sedemikian bijaknya sehingga tidak pernah salah dalam menilai apa yang baik dan buruk. Singkat kata, seorang terbaik dan paling berbahagia dari antara manusia.’

Sifat-sifat demikian terdapat pada seorang yang memang saleh yang selalu memikirkan segala tindakan dan perkataannya, dimana ia selalu berhati-hati dalam melangkah agar tidak menimbulkan kemurkaan Tuhan dan ‘suara Tuhan’ yang telah biasa didengarnya. Ahli sejarah Xenophon mencatat tentang dirinya: ‘Tidak ada seorang pun yang bisa mengatakan bahwa ia pernah melakukan atau mengatakan sesuatu yang tidak pantas.’

Faset lain yang menarik dari karakter Socrates adalah kemampuannya membahas ide-ide dan keyakinannya dengan segala lapisan masyarakat dan dengan segala macam profesi.

Bahkan dalam kehidupan politik, bangsa Athena memilih Archon mereka serta bendaharawan Khazanah dari lingkungan kelas atas dan ke 400 anggota Dewan dipilih dari kedua kelas yang di atas. Kelas yang di bawah diizinkan mengikuti jalannya dewan dan peradilan. Namun bagi Socrates Tuhan-nya adalah pencipta umat manusia dimana pesan-pesan dan upaya perbaikan diterapkan pada semua manusia Athena, lelaki atau wanita, karena itu ia santai saja berbicara dengan siapa pun apakah penyair, ahli sejarah dan tentara di satu sisi atau juga dengan pembuat sepatu atau tukang kayu (Ahmad, h.81).

Pada masa itu kalangan ilmiah Athena sedang giat-giatnya mempelajari sains dan alam luar, namun ia malah mulai mengarahkannya kepada tentang manusia, khususnya tentang pengaruh dari tingkah laku dan perbuatan. Ia berusaha menjelaskan kepada para pengikutnya pemahaman tentang makna kehidupan yang baik dan saleh. Socrates berusaha mengajarkan tentang makna kehidupan dan kematian, dimana ia terkejut atas reaksi mereka atas perkataannya:

‘Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang dinamakan maut, bisa jadi maut merupakan rahmat yang terbesar bagi umat manusia, namun manusia takut kepadanya seperti ketakutan kepada suatu hal yang amat buruk.’

Ia juga menentang konsep kuno bangsa Yunani tentang jiwa atau psyche. Kepercayaan kuno menyatakan bahwa jiwa atau ruh adalah cerminan dari orang yang mati yang bergerak dari dunia kehidupan dan kematian. Socrates menyatakan bahwa ruh adalah suatu yang berbeda dengan tubuh jasmani. Ia mengemukakan kalau ruh itu mempunyai kecenderungan alamiah kepada kebaikan, suatu konsep yang kemudian ditentang oleh Aristoteles (Freeman, h. 281)

Yang paling menarik ialah Socrates memiliki pandangan pribadi tentang Tuhan yang mengajak kita untuk berfikir bahwa ia adalah seorang penerima ru’ya dan wahyu, apalagi jika dikaitkan dengan dampaknya yang terasa seketika pada masyarakat Athena.

Ia berhasil mempertahankan keyakinannya pada Wujud Maha Kuasa dan Maha Pencipta alam semesta terhadap pandangan poytheisme di sekitarnya dengan menggunakan akidah-akidah hukum alam. Ia menentang pluralitas yang berkembang dalam agama bangsa Yunani sebagaimana yang tercermin dalam mithologi mereka. Ia menganjurkan bangsa Athena agar berdoa bagi kebajikan dan bukan untuk keuntungan material.

 

BAB IV KESIMPULAN

 

Berkaitan dengan Socrates kita masih mengetahuinya karena riwayat hidup, karya dan keyakinannya telah dicatat oleh salah seorang muridnya yaitu Plato. Walau akurasi karya ini mungkin bisa diperdebatkan namun kita masih mendapatkan gambaran umum tentang sosok bersangkutan.

Socrates? Ya. Dia adalah Bapak Filsafat yang menakhiri hidupnya dengan racun karena menetapi prinsipnya tentang pantas dan tidak pantas, tentang bersalah dan tidak bersalah, bijak dan tidak bijak menurut pemahaman dan kontemplasi diri-sendiri, serta permenungan dengan kawan-kawan filsafatnya.
Mengapa Socrates sampai harus mengakhiri hidupnya sendiri? Dia dipenjarakan atas tuduhan meracuni pemikiran para pemuda dan konsekuensinya dia harus minum racun untuk membuktikan kalau dirinya tidak bersalah. Sungguh sebuah tragedi kepahlawanan dari seorang tokoh yang hebat menurut para pembela dan pendukungnya. Benarkah ini satu-satunya jalan untuk membuktikan kebenaran?
Ia sebenarnya memiliki derajat dalam masyarakat meski ia menghindari politik karena dianggap akan mengganggu missi keruhaniannya. Dalam jabatan yang dipegangnya ia selalu bersikap berani dan terkadang berdiri sendiri mempertahankan apa yang dianggapnya sebagai tindakan yang benar. Contohnya antara lain saat ia menentang sendirian proposal terhadap para pemenang Arginusae pada tahun 406 s.M. Dua tahun kemudian ia menunjukkan pembangkangan terhadap Tirani Tigapuluh selama masa pemerintahan teror mereka.

Dakwah Socrates yang dilakukan secara ekstensif serta sikapnya yang berprinsip jadinya dianggap mengganggu oleh negara Yunani yang kemudian menangkapnya pada tahun 399 s.M. Yang menjadi pendakwanya adalah Meletus (seorang penyair), Anytus (politisi) dan Lycon (orator). Tuduhannya adalah, Socrates telah bersalah karena tidak mengakui dewa-dewa kota, mengakui adanya sembahan lain dan mencoba memperkenalkan kekuasaan lain. Ia juga telah merusak generasi muda.’ (Freeman, h.267)

Menurut penuturan Plato, Socrates menolak memberikan argumentasi rhetorikal untuk membela dirinya dan menggunakan cara yang lebih santun.
Menurut apologi Plato, ia mengawali pembelaan dirinya dengan kata-kata berikut:
“Kalau begitu aku harus mengajukan pembelaan diri dan mencoba menjernihkan fitnah yang sudah berlangsung lama atas diriku. Dan dengan menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan, sesuai dengan kepatuhan kepada hukum, aku sekarang akan mengajukan pembelaan diriku” (Apology,19a)
Sebenarnya ia mempunyai kesempatan untuk mendapatkan hukuman yang lebih ringan tetapi ia menolak dan lebih mempertahankan pendapatnya. Ia sepertinya mengabaikan kedatangan maut dan bahkan menyatakan bahwa ia akan pergi ke suatu tempat yang lebih baik. Ia kemudian divonis mati dan setelah beberapa hari di penjara, ia dipaksa meminum racun yang membawa kematiannya.
Entah di mana letak kebijakan Socrates dengan ia memilih minum racun. Sudahkan dia buat penjelasan dan pengajaran bagi para pemimpin akan arti sebuah filsafat? Sudahkan dia membuat pengajaran kepada khalayak ramai akan arti sebuah kebenaran filsafat? Apakah begitu tiraninya para penguasa Yunani masa itu sehingga negeri yang memuja “Dewa Kebijakan”, “Dewa Ilmu” dan ribuan dewa-dewi baik, itu begitu membutakan mata terhadap penindasan bagi sebuah kebebasan berfikir? Entahlah, kita tidak tahu pasti tentang apa yang terjadi di tahun 399 S.M silam.

Ada seorang penulis yakni (Agus Bagyo, Alumnus Fakultas Sastra dan Filsafat UNS, Surakarta) menulis.

“Penulis, karena hanya empat tahun belajar filsafat, hanya berasumsi kalau filsafat sebenarnya hanyalah sebuah ilmu yang mengantarkan manusia kepada kebingungan belaka; karena akan menggiring kita untuk selalu bertanya; bahkan sampai menanyakan perkara yang sudah jelas kebenarannya , yakni dogma Agama seperti Qur’an dan Al- Hadist. Bahkan kadang sampai menanyakan perkara-perkara yang sebenaranya tidak bisa dijangkau oleh akal; karena memang seharusnya dijangkau dengan iman dan keyakinan.
Tahukah Anda tentang JIL? Mereka adalah kelompok para “cendikiawan Muslim”, ada yang alumni pondok pesantren, yang bingung terhadap eksistensi diri dan Tuhan karena terlalu banyak berfikir dengan akal yang sangat terbatas ini. Bagiamana mana akal yang sangat terbatas ini mempertanyakan eksistensi Tuhan Yang Maha Luas ilmu-Nya. Ilmu manusia dibandingkan dengan ilmu Allah hanyalah sebatas satu tetes air yang jatuh dari kelingking yang dicelup dalam samudera yang maha luas”

Jadi bagaiman sebenarnya mengenai ilmu filsafat ? ini yang akan kita tanyakan kepada dosen.

 

DAFTAR REFERENSI

 

http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/yunani.html

http://www.rahmaninop.com/?pilih=lihat&id=8

http://fosi.blogs.friendster.com/fosi/

http://www.terapialternatif.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=69

http://www.isi-ska.ac.id/elearning/tari/powerpoint/pert_6.ppt

http://ardiansyahblog.blogspot.com/

http://hfirmana.wordpress.com/

2 responses to this post.

  1. salam persahabatan!
    good artikel sob,moga sukses selalu buat kamu!!

  2. Posted by dina on Oktober 9, 2010 at 4:22 am

    minta buat referensi ya. thx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: